Showing posts with label Women and Poverty. Show all posts
Showing posts with label Women and Poverty. Show all posts

March 7, 2013

W O M A N


To celebrate International Women's Day, the UN Women Australia facilitated a gender discussion which invite panel members: Julie Bishop (Deputy Leader of the Opposition and Shadow Minister for Foreign Affairs and Trade), Tanya Plibersek (Minister for Health), Julie McKay (Ex Director of UN Women Australia) with ABC Presenter, Virginia Hausseger as the Moderator. I watched the discussion thru ABC TV News yesterday. It was interesting, thus entertaining, specially watching the debate between two smart women, Julie Bishop and Tanya Plibersek. I like them both. Julie is always aggressive but she delivered her strong arguments and criticism with her charming style. Whereas Tanya looks so firm, tough and serious, but also we can still see her feminine and sensitivity when she talked about difficulty being a women in politics.  

As much as I enjoyed watching the debate, I also learned on how those women from this developed country defending their arguments and claims, using not only their beauty and speaking skill, but mostly their analytical skills and logic. It is also surprising me knowing that not only women in developing country like Indonesia still struggling with their gender roles, inequity and inequality, but to certain degree, women in Australia today are also still facing similar challenges. So I believe, we, Indonesian women, are not too left behind :) 

I quoted below on Tanya Plibersek's concern about one example on the unfairness made up by our social structure (in both Indonesia and Australia) about women's dual role in both professional and housemother/wife.  

"No man has ever, ever been asked to choose between a satisfying career and a family they love. No man has been asked to explain why they don't have a family, like the Prime Minister, like Julie....Sure life changes but the idea that we have to explain all the why we made a choice or even have this debate is unfair and old fashioned."

If you are a woman, how about your condition today? Are you still struggling the same? 

I have many female girlfriends, they are still single (by their choice) and have good career. Some even have high level position at the company or organization they work. Some of them are the breadwinner for their family. Something that I used to admired about them. But I also see, how we sometimes too focus to see their unmarried status as their weakness and neglect the fact that they do have good career and produce lots of fruitful things for the community and their family. How many of us have contributed to make those women's lives become inconvenient by keep asking them about their choice and decision? In my own story, many of my friends and families are still questioning why I decided not to have my own children. Seeing me and my decision as something weird, intolerable and need to be fix. In contrast, we may see and feel different thing when those decision or situation occurred to our male friends and brothers. We tend to easily accept whatever their decisions on their life: marry or being a happy single-man, without seeing it as they have some significant weakness.

To see Indonesia treats their women fairly might still far to be happening. But I would encourage us to start it by treating more fairly and with respect to the women surrounding you, your wife, your girlfriend, your siblings and relatives,  or your female co-workers. This could be by just doing an easiest thing: accept and don't doubt whatever their condition today. Without digging further, keep asking them, instruct them, and/or confusing them with their status or decision that they've made. Challenge what they've done, but not stressing on what is embedded into their life as a woman.

If you are a man, be a feminist without loosing your masculinity, and support us to achieve many great things in life. If a woman happy, it is the happiness of all at home. A healthy woman at home (physic and mentally), then we will also have a healthy nation. 

Happy women's day for all women, in wherever you are! We are precious!

October 27, 2010

Mother


"Every time I see a mother with an infant, I know I am seeing a woman at work. I know that work is not leisure and it is not sleep, and it may well be enjoyable. I know that money payment is not necessary for work to be done. But again, I seem to be at odds with economics as a discipline, because when work becomes a concept in institutionalized economics, payment enters the pictures. So my grandmother did not work, and those mothers I see with their infants are not working. No housewives, according to this definition, are workers".

[Quotes by Marilyn Waring]

September 26, 2010

Eclamsia - Pembunuh Ibu Hamil

Preeclampsia (pre-e-klam-si-a) atau toxemia, adalah suatu gangguan yang muncul pada masa kehamilan, umumnya terjadi pada usia kehamilan di atas 20 minggu. Gejala-gejala yang umum adalah tingginya tekanan darah, pembengkakan yang tak kunjung sembuh dan tingginya jumlah protein di urin.


Preeclampsia sering terjadi pada kehamilan pertama dan pada wanita yang memiliki sejarah preeclampsia di keluarganya. Resiko lebih tinggi terjadi pada wanita yang memiliki banyak anak, ibu hamil usia remaja, dan wanita hamil di atas usia 40 tahun. Selain itu, wanita dengan tekanan darah tinggi atau memiliki gangguan ginjal sebelum hamil juga beresiko tinggi mengalami preeclampsia . Penyebab sesungguhnya masih belum diketahui.


DETEKSI PREECLAMPSIA

Tidak ada uji khusus untuk mendiagnosa preeclampsia. Pemeriksaan tekanan darah yang rutin dapat membantu mendeteksi adanya preeclampsia karena pengingkatan tekanan darah yang drastis setelah usia kehamilan di atas 20 minggu (sistolik di atas 140 mmHg dan diastolik 90 mmHg; atau peningkatan 30 mmHg untuk sistolik dan 15 mmHg untuk diastolik) merupakan pertanda awal kemungkinan terjadinya preeclampsia. Melalui tes urin dapat dideteksi adanya kandungan protein di urin (proteinuria). Jika terdeteksi, sebaiknya seringlah mengunjungi dokter sekurang-kurangnya sekali seminggu.


RESIKO PREECLAMPSIA UNTUK IBU DAN BAYI

Ibu hamil yang mengalami preeclampsia berisiko tinggi mengalami keguguran, gagal ginjal akut, pendarahan otak, pembekuan darah intravaskular, pembengkakan paru-paru, kolaps pada system pembuluh darah, dan eclamsia, yaitu gangguan tahap lanjutan yang ditandai dengan serangan toxemia yang bisa berakibat sangat serius bagi ibu dan bayinya.

Pada bayi, preeclampsia dapat mencegah plasenta (jalur penyaluran udara dan makanan untuk janin) mendapat asupan darah yang cukup, sehingga bayi bisa kekurangan oksigen ( hypoxia) dan makanan. Hal ini dapat menimbulkan rendahnya bobot tubuh bayi ketika lahir dan juga menimbulkan masalah lain pada bayi, seperti kelahiran prematur sampai dengan kematian pada saat kelahiran (perinatal death).

Tetapi banyak wanita penderita preeclampsia tetap melahirkan bayi yang sehat. Hal ini karena preeclampsia dapat dideteksi lebih awal apabila calon ibu rajin merawat kehamilannya.

CARA MENGATASI PREECLAMPSIA

Apabila Anda mengalami preeclampsia, melahirkan adalah cara yang paling tepat untuk melindungi Anda dan bayi Anda. Tapi hal ini tidak selalu harus dilakukan, karena bisa jadi bayi Anda terlalu dini untuk dilahirkan.

Apabila kelahiran tidak memungkinkan karena usia kandungan yang terlalu dini, ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk mengatasi preeclampsia sampai bayi dinyatakan cukup umur untuk bisa dilahirkan. Langkah-langkah tersebut meliputi penurunan tekanan darah dengan cara istirahat total (bed-rest) atau dengan obat-obatan, dan perhatian khusus dari dokter. Pada beberapa kasus, bisa jadi diperlukan opname di rumah sakit.

Salah satu cara mengendalikan tekanan darah ketika Anda tidak sedang hamil adalah dengan membatasi jumlah garam pada makanan Anda. Namun hal ini bukanlah ide bagus apabila Anda mengalami hipertensi pada saat hamil. Tubuh Anda membutuhkan garam untuk menjaga aliran cairan tubuh, jadi Anda tetap membutuhkan asupan garam dalam jumlah normal. Dokter Anda akan menginformasikan berapa banyak jumlah garam yang Anda butuhkan perhari dan berapa banyak jumlah air yang harus anda minum tiap harinya.

Dokter anda mungkin akan memberikan aspirin atau tambahan kalsium untuk mencegah pre-eclamsia. Dokter mungkin juga akan menyarankan Anda untuk berbaring pada sisi kiri anda saat anda beristirahat. Hal ini akan meningkatkan aliran darah dan mengurangi beban pembuluh darah besar Anda. Banyak dokter memberikan magnesium sulfat selama proses melahirkan dan beberapa hari setelah melahirkan untuk mencegah eclamsia.

GEJALA-GEJALA PREECLAMPSIA

Apabila Anda sedang hamil dan mengalami gejala-gejala seperti di bawah ini, segeralah hubungi dokter anda :

Sakit kepala yang parah
Muntah darah
Pembengkakan yang berlebihan pada kaki dan tangan
Jumlah urin yang sedikit atau tidak ada urin
Kencing disertai darah
Denyut jantung yang cepat
Pusing
Mual berlebihan
Telinga berdengung
Muntah berlebihan
Mengantuk
Demam
Penglihatan ganda
Penglihatan buram
Kebutaan tiba-tiba
Nyeri pada perut

Tingginya Kematian Ibu Hamil di Indonesia

Saat berkumpul bersama teman-teman perempuan saya semalam dan diulang lagi dalam account twitter (@liamarpaung), saya berbagi informasi terkait eclamsia. Kematian seorang teman diving yang sedang hamil sebulan yang lalu, dan baru-baru ini seorang teman yang lain yang sedang hamil 7 bulan mendadak harus dirawat di ruang ICU karena terkena pre-eclamsia, membuat saya cukup terhenyak menyadari suatu fakta: jangankan nun jauh di timur Indonesia sana, yakni di Papua yang memiliki angka kematian ibu tertinggi, bahkan di kota besar seperti di Jakarta, ternyata masih banyak perempuan dan ibu hamil, serta keluarga mereka, yang masih belum memahami bahaya dan resiko kehamilan, serta masih perlunya dilakukan edukasi terkait Kesehatan Ibu & Anak (KIA). Membuat saya teringat dengan tulisan lama saya yang pernah saya tulis di rumah blog lama saya disini yakni di tahun 2006 lalu.

Saya cantumkan link-nya dan semoga berkenan membuka dan membacanya. Semoga tulisan ini dapat memberikan sedikit bantuan untuk kembali mengingatkan kita, bahwa setiap kehamilan adalah berisiko. Itu sebabnya kita perlu memberikan dukungan bagi perempuan, bagi ibu hamil, bahkan juga dalam berbagi informasi seperti ini, sehingga tidak perlu lagi ada ibu hamil yang kehilangan nyawa hanya karena ketidaktahuan akan informasi seperti ini.

March 4, 2010

Adonara, Aku Ingin Kembali

Adonara, sebuah pulau yang hanya berupa noktah hitam dalam peta Indonesia. Wilayah ini berada di Kab. Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Pulau kering dan tandus itu menyimpan banyak cerita yang hampir tak pernah terangkat di media massa, baik media cetak maupun layar kaca. Cerita tentang kebersamaan, cerita tentang perjuangan hidup, cerita yang selalu ingin membuat kita kembali.

Coklat. Aku melihat warna coklat dimana-mana. Aku mencium bau tanah kering kecoklatan, tandus, hampir tidak ada pohon rindang yang sudi berdiam diri diatasnya. Hanya jambu mede, kelapa dan ubi kayu yang bisa bertahan hidup, tumbuh di sela-sela tanah kering dan bebatuan. Debu jalan beterbangan tersapu angin ketika sebuah mobil bak terbuka lewat, menyisakan udara pekat berwarna coklat. Atap-atap rumah yang terbuat dari rumbia berwarna coklat. Perempuan-perempuan membawa air dalam ember plastik yang diletakkan di kepala berjalan tegak beriringan dengan sebelah tangannya memegang ember di kepala. Kain tenun tradisional dengan corak khas juga didominasi warna coklat hitam melilit di pinggang mereka.

Adonara, pulau yang baru kutahu namanya ketika aku berkunjung ke sana. Pulau kecil yang hanya berupa noktah hitam dalam peta Indonesia, kering dan tandus, namun selalu membuatku rindu untuk kembali. Sebuah pulau yang tak pernah kudengar namanya dalam pelajaran geografi di sekolah. Bagiku, Pulau Adonara menyimpan banyak cerita, bahkan jauh lebih berharga dari sejarah bangsa ini yang banyak direkayasa demi kepentingan segelintir penguasa.

Pulau Adonara berada di antara Pulau Flores dan Pulau Lembata. Kondisi alam yang tandus dan kering, sumberdaya alam yang kurang memadai, memaksa sebagian penduduk, terutama para lelaki untuk mencari penghidupan yang lebih baik di luar wilayahnya, bahkan ke negeri tetangga; Malaysia. Mereka meninggalkan anak dan istrinya yang bertahan hidup sendirian, bahkan terkadang meninggalkan hutang-hutang karena kepergiannya. Tak jarang mereka pergi merantau dan tak pernah kembali, entah mereka lupa akan tanah leluhurnya, lupa akan anak istrinya, bahkan banyak diantara mereka yang kawin lagi di perantauan. Kondisi tersebut menyisakan beban hidup dan kepedihan yang mendalam bagi para istri, perempuan yang ditinggalkan.

Juni tahun 2003, awal perkenalanku dengan pulau Adonara. Ketika itu aku menjadi bagian dari proses pembuatan video dokumenter tentang kisah hidup para perempuan yang terpaksa berperan sebagai kepala keluarga. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan lokakarya pembuatan video yang dilaksanakan di Bali sebelumnya. Kami berlima menjadi satu tim produksi dengan dengan tugas dan tanggungjawab masing-masing. Anna Har, sang sutradara, seorang perempuan yang aku kagumi, suhu utamaku, dia seorang ahli pembuat film dari Malaysia, yang juga fasilitator pelatihan. Adi Nugroho, teman kerjaku di PEKKA sebagai produser, yang bertanggungjawab terhadap jalannya pelaksanaan produksi. Yoga Atmaja, seorang lelaki Bali dari Yayasan Wisnu yang lebih banyak berperan sebagai pewawancara dan editor. Sedang aku dan seorang lagi teman dari Yayasan Nen Mas Il, Veggy Elmas namanya, berperan sebagai penata kamera.

Proses pengambilan gambar memakan waktu 4 hari terasa sangat melelahkan. Pagi-pagi buta, sebelum sang fajar menampakkan sinarnya, kami harus bangun karena dalam pembuatan film dokumenter, terutama film yang mengangkat profil seseorang haruslah mengikuti kegiatannya dari sejak orang tersebut terbangun dari tidurnya. Namun keletihan dan kelelahan fisik terbayar lunas dengan apa yang kudapat. Banyak hal yang aku pelajari dari kawan-kawan satu tim, terutama Anna. Anna mengajariku bagaimana menjadi seorang sutradara, bagaimana mengarahkan kamera agar gambar yang dihasilkan adalah gambar terbaik dan bisa digunakan untuk menyampaikan pesan. Aku berusaha menyerap sebanyak mungkin ilmu yang dimilikinya, bagaimana memilih tokoh yang bisa mendukung cerita, teknik mewawancarai yang baik yang memungkinkan narasumber yang diwawancarai bisa bercerita dengan leluasa.

"Nama saya Lucia Ola Ina, anak saya tiga orang, suami saya pergi ke Malyasia 7 tahun, tidak ada berita.”

Kalimat tersebut bisa dengan lancar diucapkan oleh Olin, sapaan akrab perempuan tersebut setelah beberapa kali kami melakukan pengulangan pertanyaan. Olin adalah salah seorang perempuan kepala keluarga yang menjadi narasumber kami, perempuan yang menanggung beban hidup, menafkahi dan membesarkan ketiga anaknya sendirian. Wajahnya yang polos dan hampir tidak ada ekspresi itu akhirnya bisa bercerita. Olin hidup dari mengurus kebun dan berjualan “papalele” hasil kebun di Pasar Senadan, pasar tradisional di Kecamatan Ile Boleng. Beban berat yang dipikulnya menyebabkan dua orang anaknya tidak bisa bersekolah. Olin tinggal di sebuah gubuk berukuran kira-kira 3 x 4 meter yang dindingnya terbuat dari bambu, hanya ada satu ruangan tanpa penyekat yang berfungsi sebagai ruang keluarga, kamar tidur, ruang tamu sekaligus dapur dengan segala perlengkapannya. Namun aku tidak melihat kesedihan di wajahnya, tak ada rasa dendam dan marah meski suaminya pergi sekian lamanya tanpa kabar dan berita, apalagi kiriman uang untuk menghidupi keluarganya.

"Harus sabar, pasrah dan berdoa,” hanya itu yang terujar dari wajah polosnya. Begitupun anak-anaknya, mereka bermain dengan riang di halaman rumah, begitu gembira.

Lain lagi halnya Anas, seorang perempuan kepala keluarga yang ditinggal kawin oleh suaminya. Dia menanggung beban seorang diri untuk menghidupi kedua anak dan ibunya yang sudah tua. Beban bertambah berat, karena Anas terikat dengan aturan adat, ketika ada anggota keluarga, kerabat atau tetangga yang meninggal, keluarganya tetap mempunyai kewajiban untuk menyerahkan 3 – 4 kain sarung tenun buatannya. Kain tenun yang per helainya diselesaikan dalam waktu 4 hari harus diserahkan kepada orang lain, tidak bisa ditawar lagi. Bukan itu saja, anaknya yang diurusnya sedari kecil, ketika sudah dewasa nanti akan menjadi milik keluarga laki-laki meskipun suaminya tidak menafkahi.

Itulah sepenggal cerita dari narasumber yang kami wawancarai. Kepedihan, kemiskinan, perjuangan hidup, ketabahan, menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Kehidupan yang sarat dengan beban mereka jalani dengan kepatuhan tanpa syarat. Aturan adat yang menempatkan perempuan pada lapisan terbawah dalam tatanan kehidupan di masyarakat, mereka jalani dengan kepasrahan tanpa pilihan, bahkan mereka tidak mampu menentukan hidupnya sendiri. Aku kagum akan kegigihan, semangat dan keikhlasan mereka menjalani hidup. Aku benar-benar merasa tidak berarti dihadapan mereka.

Salah satu isu yang akan kami angkat dalam film adalah persoalan adat yang banyak menyebabkan perempuan terpinggirkan. Salah satunya tentang budaya belis.

Perkawinan di Adonara dan Flores Timur pada umumnya, ditandai dengan pemberian belis (mahar) berupa gading gajah yang menurut logika tidak akan ditemui di daratan Adonara. Belis yang bernilai sangat tinggi yang diberikan oleh pihak laki-laki mengandung pemahaman bahwa perempuan telah dibeli dan menjadi milik keluarga atau suku dari pihak laki-laki. Ini mengakibatkan laki-laki seolah-olah bebas untuk memperlakukan istri sesuai kehendaknya.

Dan tentu saja penyebab utama dari semua permasalahan adalah budaya patriarki yang sudah mengurat mengakar, yang dipatuhi kebanyakan orang melebihi kepatuhan akan agama.

Banyak hal menarik ketika kami melakukan proses pengambilan gambar, terutama saat kami mengambil prosesi adat pernikahan. Malam kedua di Adonara, di lapangan depan balai desa banyak orang berkerumun. Hampir seluruh penduduk kampung ingin melihat kami beraksi mengambil gambar. Para perempuan duduk di samping kiri lapangan dengan berselimutkan kain tenun, berderet rapi bagai duduk di bangku bioskop menanti film diputar. Para tetua adat dan tokoh masyarakat duduk di bagian depan dengan kursi yang khusus disediakan bagi mereka. Sementara di sisi lain, para pemuda berdiri dan bercengkrama, mengepulkan asap rokok dari mulut dan hidung mereka. Bagi mereka, mungkin ini hiburan yang menyenangkan. Dengan lampu-lampu petromak sebagai alat penerang karena aliran listrik yang tak menentu. Beruntung kami bisa mempunyai cadangan baterai yang cukup untuk proses syuting. Kami disambut bak rombongan pejabat, dengan upacara adat, dengan tarian-tarian tradisional, dikalungi selendang tenun satu persatu. Mereka dengan ramah menyapa kami, terutama Anna karena dia berasal dari Malaysia. Bagi mereka, nama Malaysia begitu akrab di telinga karena banyak diantara mereka yang menggantungkan hidup dengan bekerja sebagai pekerja migran di Malyasia.

Aku hampir tak percaya dengan yang kulihat saat itu, pengambilan gambar proses pernikahan yang dalam bayanganku hanya akan dihadiri sebagian orang, ternyata tidak demikian. Begitu meriah seakan itu pesta pernikahan sungguhan. Beberapa ekor kambing jantan yang besar dengan tanduk panjangnya digiring ke tengah lapangan. Gading gajah, sebagai mahar atau belis diarak beberapa orang laki-laki. Mempelai pria dan perempuan berperan bak pengantin sungguhan. Tanpa casting, tanpa skenario, tanpa naskah cerita. Dalam pesta itu, ditampilkan juga kesenian-kesenian tradisional, mulai dari tari bambu, kidung, tari perang dan banyak lagi yang tak kuingat semuanya. Para perempuan tua menari dan bernyanyi, nyanyian yang akhirnya kutahu sebagai keluh kesah para perempuan yang ditinggal suami. Pengambilan gambar prosesi pernikahan adat berlangsung dengan lancar. Hampir tengah malam kami baru pulang ke tempat penginapan. Rasa lelah mendera, namun aku puas dengan apa yang aku kerjakan hari itu.

Akhirnya proses syuting yang melelahkan usai. Kami kembali ke Bali membawa material gambar untuk dilakukan penyuntingan. Proses penyuntingan dilakukan di kantor Yayasan Wisnu di Bali dan menghabiskan waktu 3 hari. Setelah proses penyuntingan selesai dilakukan, kami memberi judul “Melawan Bayangan, Menenun Masa Depan”. Judul tersebut mengandung arti bahwa bagi siapapun yang ingin melakukan perubahan terhadap budaya, terhadap kesenjangan yang terjadi, ibarat melawan bayangan, sesuatu yang sepertinya mustahil untuk dilakukan. Namun tidak ada yang tidak mungkin dilakukan, hanya perlu kesabaran dan proses yang terus menerus seperti seorang perempuan yang dengan tekun dan teliti menenun lembar demi lembar benang menjadi sehelai kain. Ketika kami menonton bersama film yang telah diedit, aku masih bisa merasakan haru, meski aku terlibat penuh dalam proses pengambilan gambar.

Adonara menyimpan banyak cerita. Adonara mengajariku banyak hal. Adonara membuatku rindu untuk kembali.

[written by Rudianto, www.pekka.or.id]

September 17, 2009

Masih Adakah Tanah Air bagi Kami ?


"Kami tidak mampu membeli sepatu yang kami buat. Kami tidak bisa memiliki baju yang kami jahit. Kami tidak bisa merasakan rumah yang kami bangun. Apa disini kami punya tanah air ?"

Namaku Sunarsih. Sih, begitulah Mas tejo kekasihku memanggil. Umurku genap 25 tahun bulan September ini. Hanya itu yang bisa kuperkenalkan. Karena memang cuma menjadi kekasih mas Tejo saja yang bisa kubanggakan. Pekerjaan? Awal bulan September 2009 lalu, aku resmi menggangur. Genap 1 tahun aku bekerja di salah satu pabrik garmen di Kawasan Berikat Nusantara Cakung yang menjadi tempatku mengais nafkah. Mereka memutuskan kontrak kerja denganku.

Insert:

“Yah…baru 2 minggu kemaren dipecat. Lha begini ini nasibnya buruh outsourcing. Mau protes ga bisa karena sudah jadi kesepakatan. Tapi sekarang kalo ga lewat begituan juga ga bisa kerja. Pabrik itu pinteran mbak. Kita diputus kontraknya pas mau leberan. Biar ga bayar thr. Jadinya ya tetep aku ga bisa pulang kampong.”

Sekarang kesibukanku membantu mas Tejo berjualan gorengan di dekat pabrik tempatku bekerja dulu. Mungkin memang beginilah garis yang diberikan Tuhan padaku. Menolak dikirim bekerja sebagai pembantu rumah tangga, tahun 2003 aku bertolak dari kampungku di Sragen, Jawa Tengah ke Jakarta. Jadi buruh memang tujuanku. Sebenarnya apapun pekerjaanya asal halal dan tidak menjadi pembantu, akan kujalani. Akhirnya, kamar kos berukuran 2 X 3 meter inilah yang menjadi pelabuhanku selama 5 tahun terakhir.

Insert:

“saya ga mau jadi pembantu. Pokoknya ga mau. Nah, saya lari dari rumah karna mau dikirim ke Surabaya buat jadi pembantu. Ikut sama saudara saya yang sudah duluan kesana.asal saya dari sragen.”

Cintaku akan mas Tejo sudah mentok. Hanya dia saja lelaki yang mau menerima aku apa adanya. Yah…aku sudah di vonis tidak bisa punya anak. Apa coba yang bisa disebut lebih kejam bagi seorang perempuan, selain tidak bisa merasakan keajaiban mengandung dan melahirkan. Tak bisa membawa kehidupan baru. Semua itu berawal dari aksi protes kami, para buruh pabrik sepatu ternama di KBN Cakung tahun 2004.

Insert:

“Siapa yang ga mau protes, 2 bulan gajian Cuma separo. Dibayar dengan perjanjian bersedia menandatangani PHK massal tanpa menuntut upah PHK. Itu kan gila namanya. Kami ini kan masih manusia, lha wong hewan ajah kalo dipotong jatah makannya ngamuk kok.”

Waktu itu suasana di pabrik memanas. Kebijakan pengusaha disambut unjuk rasa besar-besaran selama 3 hari. Di hari terakhir, pimpinan perusahaan berjanji akan memenuhi semua kewajiban. Melunasi gaji yang tertunda selama 2 bulan dan memberikan uang PHK sebesar 1 bulan gaji. Ternyata lagi-lagi janji tinggalah janji. Saat hari pencairan uang tiba, janji itu menguap. Semua direksi lenyap dari pabrik. Kami kalap. Kami masuk ke pabrik. Buruh lelaki menduduki pabrik. Buruh perempuan kembali ke rumahnya mengambil peralatan sehari-hari. Di pabrik tempat kami bekerja inilah kami membentangkan spanduk dan tidur disana. Disinilah awal perkenalanku dengan mas Tejo.

Insert:

“wah…waktu itu semangat sekali kita. Pabrik sudah kayak rumah sendiri. Kita masak, makan, minum dan segala macem ya disitu. Siang malam diskusi soal rencana selanjutnya. Tapi hari ketiga kita disitu, mulai ada orang-orang berbadan kekar sekirar 20 orang. Mereka ngancam kalo kita terus disitu kita semua bakal babak belur. Kami tidak takut. Lha wong jumlah kami lebih banyak.”

Memasuki hari ke tujuh suasana bertambah tegang. Pagi hari, belum lagi kami sadar, satu truk preman lengkap dengan pentungan bersepatu tentara masuk ke ruangan tempat kami tidur. Mereka mengobrak-abrik semua yang kami punya. Kompor, piring, gelas baju, semua jadi sasaran. Kami yang belum solid dan sama sekali tidak terhimpun dengan baik jadi kocar-kacir. Para preman kemudian mengumpulkan para perempuan di tengah ruangan yang dijaga ketat. Entah kenapa mereka kemudian menyeret sahabatku. Yah…mereka mengambil Rina yang berdiri tepat di sebelahku. Mungkin karena Rina berparas ayu. Kala itu aku merasa sangat beruntung memiliki wajah yang biasa saja.

Insert:

“waktu ngambil rina, mereka ngacam kalau kami berani macam-macam, Rina bakal tidak selamat dan kondisinya bisa lebih buruk dari Marsinah. Mereka juga mengancam kalau siang itu kami harus pergi dari sini.”

Kemudian mereka pergi membawa Rina, kawan kami. Kami ketakutan dan bingung. Perempuan-perempuan mulai menangis. Tapi tidak denganku. Harus ada yang berpikiran sehat, ulangku pada saat itu. Rapat besar hari itu di putuskan kami tidak akan pergi sebelum Rina kembali dan hak kami dipenuhi. Apapun yang terjadi. Benar saja, menjelang sore, kira-kira jam 3, dua mobil truk pengangkut pasir masuk ke pabrik dan pereman berbadan kekar lengkap dengan pentungan dan sepatu tentara itu datang lagi. Tidak ada lagi perundingan. Komando untuk segera meninggalkan pabrik atau di hajar habis dikumandangkan.

Insert:

“kami teriak, kami keluar kalo Rina kembali. Habis itu ga ada ampun. Semua orang di hajar habis. Beruntung masih ada yang sempat telpon keluar minta tolong. Ga tau siapa orangnya. Ngeliat kayak gitu semua orang langsung lari ke pintu keluar. Tapi pintu dah ditutup. Ini sudah kayak perang. Rambut dijambak, saya masih bisa lari. Muka ditonjok, saya masih bisa diri tapi begitu pert saya ditendang keras banget,saya ga inget apa-apa lagi.”

Dan terjadilah peristiwa naas itu. Begitu membuka mata, yang ada hanya putih dan rasa nyeri di perut yang teramat sangat. Setelah itu baru kulihat Mas Tejo dan Rina. Melihatku sadar, rina langsung memelukku erat sambil menangis. Dia baik-baik saja, malah kami yang babak belur. Seminggu di Rumah sakit, kawan yang paling setia menjagaku adalah Rina dan mas Tejo. Kata mereka, darah yang keluar dari tubuhku banyak sekali. Mas Tejo juga yang menemani aku waktu dokter memvonis aku tidak lagi bisa punya anak. Bukannya surut, setelah itu dia malah melamarku.

Insert:

“Dia yang nemenin saya waktu ngadep dokter. Terus habis itu saya dilamar deh. Tapi sampai sekarang belum bisa nikah. Ga punya duit. Kami juga sepakat buat ga ngasih tau keluarga masing-masing kalo saya ga bisa punya anak.”

Sampai sekarang aku masih trauma melihat lelaki bertubuh kekar. Orang-orang yang dulu menghabisi kami masih sering berkeliaran di sekitar tempat kosku. Mereka adalah orang-orang yang dibayar untuk mengekalkan kekuasaan dan penindasan. Mereka adalah orang-orang yang rela menggadaikan nurani. Aku tidak takut jika aku sebutkan data lengkap pabrik sepatu laknat itu. Aku tidak takut, karena bagiku aku sudah mati bersama vonis dokter. Tapi aku takut akan keselamatan orang-orang yang aku sayangi. Orang-orang yang lebih dari sekedar teman dan sahabat.

Kami tidak mampu membeli sepatu yang kami buat. Kami tidak bisa memiliki baju yang kami jahit. Kami tidak bisa merasakan rumah yang kami bangun. Apa di sini kami masih punya tanah air????

Naskah Feature Radio VHRmedia.com edisi September 2009
Ditulis oleh Indah Nurmasari