
October 26, 2008
Kaki-Kakiku....

October 23, 2008
Dualitas Kehidupan
Perhatikan anak-anak ! Mereka terlalu mudah bahagia. Terlalu gampang tertawa. Tidak mengalami kesulitan untuk berpelukan. Dalam kebebasan dari dualitas, sebagian besar anak-anak tidak punya hantu masa lalu. Dan tidak punya setan masa depan.
(taken from Gede Prama)
October 22, 2008
KISS [Keep It Simple Stupid]
- Salah satu dari kasus yang ada adalah kasus kotak sabun yang kosong, yang terjadi di salah satu perusahaan kosmetik yang terbesar di Jepang. Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan yang mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun (terbuat dari bahan kertas) kosong.Dengan segera pimpinan perusahaan menceritakan masalah tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak kedepartemen pengiriman. Karena suatu alasan, ada satu kotak sabun yang terluput dan mencapai bagian pengepakan dalam keadaan kosong. Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut.Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin sinar X dengan monitor resolusi tinggi yang dioperasikan oleh dua orang untuk melihat semuakotak sabun yang melewati sinar tersebut dan memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong. Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit.Tetapi saat ada seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil dihadapkan pada permasalahan yang sama, ia tidak berpikir tentang hal-hal yang rumit, tetapi iamuncul dengan solusi yang berbeda. Ia membeli sebuah kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan. Ia menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angina tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari jalur pengepakan, karena kotak sabun terbuat dari bahan kertas yang ringan.
- Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol, karena tinta pulpentersebut tidak dapat mengalir ke mata pena. Untuk memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan waktu satu dekade dan 12 juta dolar. Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan- keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagai permukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperature mulai dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius. Dan apakah yang dilakukan para orang Rusia ??? ..... Mereka menggunakan pensil!
- Suatu hari, pemilik apartemen menerima komplain dari pelanggannya. Para pelanggan mulai merasa waktu tunggu mereka di pintu lift terasa lama seiring bertambahnya penghuni di apartemen itu. Dia (pemilik) mengundang sejumlah pakar untuk men-solve that problemo. Satu pakar menyarankan agar menambah jumlah lift. Tentu, dengan bertambahnya lift, waktu tunggu jadi berkurang. Pakar lain meminta pemilik untuk mengganti lift yang lebih cepat, dengan asumsi,semakin cepat orang terlayani. Kedua saran tadi tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Tetapi, satu pakar lain hanya menyarankan satu hal, "Inti dari komplain pelanggan anda adalah mereka merasa lama menunggu". Pakar tadi hanya menyarankan untuk menginvestasikan kaca cermin di depan lift, agar pelanggan teralihkan perhatiannya dari pekerjaan "menunggu" dan merasa "tidak menunggu lift".
Moral cerita ini adalah sebuah filosofi yang disebut KISS (Keep It Simple Stupid), yaitu selalu mencari solusi yang sederhana, sehingga bahkan orang bodoh sekalipun dapat melakukannya.
Cobalah menyusun solusi yang paling sederhana dan memungkinkan untuk memecahkan masalah yang ada. Maka dari itu, kita harus belajar untuk fokus pada solusi daripada pada berfokus pada masalah.
October 11, 2008
Christie Learns To Be A Model...[and I Learn To Be A Photographer]



September 26, 2008
Tembok Penghalang

Saat sedang meniti karir, mengejar cinta ataupun impian, apapun itu, seringkali kita dihadapkan dengan "tembok penghalang" yang berdiri kokoh didepan kita....menghadang kita...terkadang membuat kita berhenti dan tak dapat melanjutkan perjalanan kita....
Namun yakinlah....tembok penghalang itu berdiri disana karena suatu alasan tertentu, yakni memberi kita kesempatan untuk menunjukkan sekuat apa kita menginginkan sesuatu...
[As quoted from The Last Lecturer by Randy Pausch,.....its a nice book ! a must to read, pals!]
September 25, 2008
TAF Alumni Gathering


September 23, 2008
Christie Learns About Tolerance


September 22, 2008
Mop Papua :)
Manis Cake Pudding, Semanis Persahabatan...

Manis Cake Pudding, Semanis Persahabatan
Menyenangkan! kata itu lebih mewakili apa yang saya rasakan setelah pertemuan dengan seorang sahabat yang sebelumnya saya kenal di dunia virtual. Jum'at, di Lobi Hotel Grand Mercure Jogjakarta saya bertemu sahabat saya itu, saya bersama suami begitupun dia. Jam 8 lewat 43 menurut pengaturan di ponsel saya, kami bertemu.
Bercerita banyak hal dari lebih banyak lagi yang sebenarnya ingin dibagi. Saya mendapat cerita menarik mengenai masyarakat Papua yang ternyata takut dengan paras melayu, perempuan dengan kulit lebih kuning dan rambut hitam panjang. "mereka bisa lari, melihatmu," katanya.
Di malam hari, setelah pertemuan itu, saya mebaca blog nya. Ada tulisan yang baru diposting. Mengenai pertemuan kami. Menyenangkan!
Pagi hari, Sachy anak saya berusia 2 tahun 4 bulan merengek meminta dibuatkan puding. Biasanya, karena kemalasan, cukup dengan merebus air, gula dan gelatin. Setelah itu dibiarkan dingin, Sachy sudah begitu lahap memakan.
Pagi hari ini, saya lebih 'melek' dapur. Ada beberapa bahan yang bisa dimanfaatkan. Mentega, Gula, Tepung, Telur dan Gelatin. Dan saya mencampur kesemua bahan itu, hingga menjadi sebuah cake pudding. Dibantu Sachy, dia yang mengukur gula dalam gelas, menuangkannya. Memegangi mixer, sambil berkata "kakak bisa kan Ma?".
Saya ingat, saya sudah lama tidak membuat cake pudding ini. Terakhir ialah ketika masih tinggal di Jakarta, berarti sudah seumur Sachy. Tepatnya 2 tahun 5 bulan.
Mengenang kehidupan di sana, menimbulkan sensasi yang menyesakkan di dada. Tidak mampu ditolak. Begitupula kenangan dengan cake pudding ini.
(ah, teman.. airmata lagi-lagi tak mampu kubendung...)
...
Saya tinggal di Petukangan Utara, tidak jauh dari kampus Budi Luhur. Tidak genap satu tahun saya tinggal di sana, tetapi cukup untuk mengetahui kejamnya Jakarta. Mungkin kehidupan saya masih jauh lebih beruntung dibandingkan beberapa tetangga lain, walau saya hidup tidak bermewahan.
Begini, saya perkenalkan salah seorang sahabat saya. Saya tidak mengetahui nama asli nya. Saya memanggilnya Uni. Dari sapaannya bisa kita tebak, kalau Uni berasal dari Sumatera Barat, Padang tepatnya. Dia hidup bersama Uda, suaminya dan kedua anak yang saat itu masing-masing kelas 2 SD dan TK. Hidup mereka sangat sederhana, bangunan yang mereka tempati sangat multifungsi. Ukuran kseluruhan tidak sampai satu setengah halte busway. Separuh dari bangunan tersebut dipergunakan untuk berjualan. Warung dengan isi berjejal-jejal. Sisanya dipergunakan sebagai kamar tidur, ruang makan, ruang keluarga, ruang tamu --walau tidak memungkinkan--, dan dapur. Setau saya, tidak ada kamar. Kasur mereka gelar jika malam dan dilipat jika pagi datang.
Di ruang terbatas itulah Uni menjadi seorang wanita perkasa. Wanita yang selalu menginspirasi saya. Wanita yang selalu mengingatkan saya jika saya sudah mulai larut dalam kesenangan dunia. Jika saya sudah tidak tanggap dengan sekitar. Dia, wanita berkulit sawo matang yang tubuhnya tak lagi dibalut daging dengan cukup.
Aktifitas Uni sama seperti kebanyakan ibu rumah tangga lain. Jam 2 subuh sudah terjaga, mencuci pakaian dan menyetrika, khusus seragam sekolah kedua anaknya, pakaian Uda dan dirinya tidak perlu menurutnya. Lalu menyiapkan sarapan dan menghitung stok barang-barang yang dijual, aneka rupa. Ketika anak bersekolah, dia berjualan membuka toko kebutuhan sehari-hari sementara Uda berdagang keliling, kadang juga hanya di rumah. Seraya berjualan, dengan seribu tangannya, ia juga memasak. Nanti, sepulang sekolah, di tiap sore jari selepas sholah Ashar, Uni selalu mengajari kedua anaknya.
Belajar di sini adalah dalam arti sesungguhnya. Yang membuat saya sangat miris ialah semangat mereka. Semangat Uni untuk mendidik kedua anaknya, semangat yang saya duga mulai luntur akibat beratnya himpitan ekonomi. Di antara tumpukan barang-barang kelontong, ada tumpukan kardus-kardus berdebu hingga ke langit-langit, jejeran pembalut beberapa merk, tumpukan obat nyamuk bakar, kapas, sampai obat gosok dan cutton bud saling berjejal-jejal. ada juga etalase kecil yang memajang benang-benang dan jarum, ikat-ikat rambut aneka rupa, aksesoris dan lainnya. Lalu, di bagian atas tergantung snack-snack Taro, Cetos dan lainnya, menghalangi sinar lampu 5 watt yang tidak pernah dipadamkan. Sedikit ke depan, ada freezer untuk menyimpan es krim walls, saya kira hasil subsidi--kalau boleh dikatakan begitu-- oleh pemilik merk dagang.
Lorong tempat calon pembeli memilih-milih barang ialah celah sempit seukuran se-lengan orang dewasa, dan di situlah kedua anak belajar dibawah bimbingan Uni. Alas yang mereka gunakan ialah kardus. Si sulung mengulang pelajaran di sekolah dan mem-preview apa yang akan diajarkan besok. Sementara si Adik belajar mengaji. Uni selalu menggunakan alat bantu. Sebuah rotan tipis, mengingatkan saya akan guru mengaji di waktu kecil dulu. "Anak, harus dibantu dengan sedikit keras untuk disiplin," ujarnya.
Saat itu saya sedang hamil, mungkin karena saya mengandung anak perempuan, saya mendadak jadi hobi bikin kue. Hal yang sebelumnya jarang saya lakukan, kecuali lebaran di Pontianak dulu. Yang paling menyenangkan ialah saat berbagi yang sedikit saya buat itu kepada beberapa tetangga, termasuk Uni dan anak-anaknya --yang lain, akan saya ceritakan nanti--. Yang menjadi favorite anak-anak itu adalah cake pudding.
Berkali-kali Uni menyatakan ingin diajari membuatnya. Saya jadi malu, rasanya tidak pantas mengajari, wong hanya mudah begitu..
Tentu saja saya tidak keberatan. Jadwal kegiatan Uni jauh dari santai. Hingga hari itu, dia datang ke rumah membawa bahan-bahan yang jauh lebih banyak dari yang diperlukan. "saya sudah minta ijin Uda, bisa sampai jam 4". Ada waktu dua jam, lebih dari cukup. "membuatnya tidak lebih 15 menit Uni".
Sambil kami membuat bersama, kami juga bercerita banyak hal. Tau, apa rencananya?
Saat itu aku menangkap kerisauan jiwanya yang tampak kosong. Tatapannya menerawang jauh. Jauhhh...ke tempat yang tidak mampu saya gapai. Dia menelan ludah, dan bunyinya masih bisa saya dengar sampai sekarang, terasa pahit. "bisakah anak saya terus sekolah mbak?," tanyanya membuat saya terdiam.
Saya ingin mengucapkan "bisa!" untuk menyemangati, tapi saya duga dia lebih tahu jawabannya. Menggantungkan hidup pada warung, tidak terlalu menguntungkan bagi mereka. Banyaknya tetangga yang berhutang sementara sulit sekali ditagih, membuat mereka tidak berdaya. barang-barang yang melonjak naik membuat mereka kewalahan untuk 'kulakan'. Belum lagi barang-barang kadaluarsa yang terpaksa harus mereka buang. Memang daya beli masyarakat turun drastis tahun-tahun belakangan ini. Dengan kenyataan seperti ini, saya tidak boleh asal bicara. Mendengar, itu saja yang sanggup saya lakukan.
Dia berencana untuk mengasuransikan kedua anaknya. Menurutnya, dia dan suami tidak akan sanggup membiayai pendidikan anak mereka sampai ke jenjang tertinggi. Satu-satunya harapan ialah bertaruh dengan asuransi.
...
Tetanggaku yang lain tepat di depan rumah bernama Mpok Nia, Betawi campuran Sunda. Punya anak 4 dengan jarak sangat rapat, bahkan masih punya bayi. Suaminya tidak bekerja dan masih menggantungkan kehidupan sehari-hari kepada mertuanya, yang sudah lanjut usia. Mereka bukan pemalas pada dasarnya, tetapi lapangan pekerjaan dan terbiasa menganggur membuat mereka menjadi biasa menjalani hidup seperti itu. Seringkali Mpok Nia ini kewalahan jika salah satu anak ada yang sakit. Bahkan, di saat anak terkecil beranjak setahun, Mpok Nia sudah hamil lagi. Kurangnya hiburan membuat aktifitas seks menjadi satu-satunya hiburan yang lebih menarik.
Tempat tinggal mereka juga tidak lebih baik dari rumah Uni. Sebuah rumah petak yang dibagi untuk 3 keluarga. Hanya ada satu kamar mandi yang dipergunakan bersama dan bergantian tentu. Sebuah ruang yang jauh lebih multifungsi. Tempat tidur, makan, menyetrika, berkumpul, menonton, masak semua jadi satu di ruangan 3x3,5m. Ada kelambu di situ, saya menduga itulah peraduan ternyaman bagi mereka. Anak-anak tidur tergeletak di lantai tak beralas. Semen dingin kasar tanpa di lapis untuk ebih halus.
Keluarga yang lain ialah keluarga Padang juga, saya memanggilnya Uda, dengan juga tidak mengetahui nama asli mereka. Mereka berprofesi sebagai penjahit. Suami dan istri. Ah, miris rasanya jika membandingkan nasib mereka dengan penjahit lain tempat saya menjahit pakaian. Tarif yang biasa dikenakan untuk menjahit sepotong baju atasan ialah antara 60.000 sampai 80.000 rupiah. Bisa lebih tergantung bahan. Hanya saja, tarif seperti itu tidak akan ditemukan di tempat Uda. Tentu saja tarifnya jauh lebih murah, walau warga situ menganggap cukup mahal. Untuk blus atau kemeja pria, Uda menarik tarif 25.000 Rupiah, 35.000 untuk celana kain. Bukan main murahnya kan?
Tetapi, peminat jahitan Uda ini tidak banyak, sehingga Uda masih harus menjajakan berkeliling menggunakan sepeda baju-baju buatannya. Per helai, beragam. Ada yang Rp. 5.000, dan kalau ditawar lagi malah bisa 10.000 dapat 3 helai. sementara yang paling mahal berharga 30.000, sebuah baju kurung. memang, tidak bisa berharap banyak pada mode. Jahitan Uda bisa dikatakan ketinggalan jaman. Tapi lagi, kalau dipikir-pikir, mau dapat untung dari mana ya?
Awalnya saya tidak tahu mengenai harga jahitan Uda ini. Baru mengetahui begitu Mbok'e --yang menemani saya-- membeli beberapa helai, "untuk yang di kampung, Mbak..,"katanya.
Keluarga yang satu lagi berasal dari Jawa. Mbak Yati. Cantik, dan selalu berdandan. Mbak Yati berusaha warteg, pembelinya lumayan. Mbak Yati seorang yang supel, periang dan baik hati. Dia juga sering membawa oleh-oleh jika setibanya kembali dari kampung. Oleh-oleh andalannya ialah pisang ambon dengan ukuran jumbo. Hampir tidak menyangka kalau itu pisang ambon.
(Ah... betapa wajah mereka melintas tiba-tiba, aku kangen...).
...
Kepindahan ke Jogja memang bukan hal yang direncanakan jauh-jauh hari. Bahkan saya hanya punya waktu seminggu dari keputusan akan pindah ke Jogja untuk mempersiapkan segalanya. Tentu berhubungan dengan kehamilan saya yang mendekati HPL --Hari Perkiraan Lahir--. Sehingga tetangga pun baru saya beritahu sehari sebelum kepindahan.
Sore itu, saya dan suami berkeliling, berpamitan pada tetangga. Mereka kaget, begitupun saya sesungguhnya. Tidak menyangka akan berpisah segera. Keesokan paginya, ternyata jauh lebih mengharukan. Mereka membantu mengemasi barang-barang, bahkan memberi saya banyak kenang-kenangan. Membekali dengan aneka makanan, memberi perlengkapan untuk kelahiran nanti. Saat bersalaman, mereka; Uni warung, Uni penjahit, Mpok Nia dan Mbak Yati saling menangis. Saya sebenarnya tak kuat juga menahan tangis.
Uni pemilik warung memeluk saya erat, seperti baru kehilangan sesuatu. "Kita akan ketemu lagi, nanti saya akan main ke sini," saya coba menghibur. "enggak! kita nggak akan ketemu lagi!!" itu yang dibisikkan Uni, dengan matanya yang merah dan penuh airmata. Saya tidak mengerti.
...
Belum genap 2 bulan kepindahan saya, saya menerima kabar Uni pemilik warung sudah Almarhum. Di susul kemudian dengan Mpok Nia yang masuk Rumah Sakit Jiwa. dua bulan setelahnya, Mbak Yati juga meninggal. Dan yang lebih menyakitkan lagi, rumah petak yang mereka tinggali telah rata dengan tanah. Ketidakmampuan mereka membayar kontrakan, menyebabkan pemilik memilih menghancurkan saja ketimbang memberi tumpangan gratis.
...
Siang ini, saya berniat memberikan secetak cake pudding yang saya buat bersama Sachy pada seorang sahabat yang saya temui malam hari tadi. Cake pudding yang selalu mengingatkan saya akan seorang sahabat lain yang telah tiada, yang airmatanya menggenang saat berpisah, yang pelukannya masih terasa hingga sekarang, yang tulang-tulangnya kalah keras dengan semangatnya, yang rencananya menyekolahkan anak setinggi-tingginya hancur berantakan karena takdir. Sahabat saya yang telah tiada itu bernama Uni, hanya itu nama yang saya ketahui. dan semoga, sahabat yang akan menerima cake pudding ini juga dapat merasakan manisnya persahabatan yang kami jalin. Manisnya cake puding, semanis persahabatan.
(nb. bu, kita tinggal menunggu pertemuan kedua untuk mendatangakan pertemuan-pertemuan selanjutnya...)