October 26, 2008

I Miss U Tonight, Pap & Mom !!!!


It feels hurt. It feels pain. Still....

Kaki-Kakiku....


Hari ini kuberkata pada kaki-kakiku, 
Jangan pernah menyerah
Jangan pernah berhenti berjalan
Meski letih terkadang datang menghampiri
Teruslah berjalan, kaki-kakiku...
Kejarlah terus bintang dilangit
Raihlah impian dan harapanmu,
Jangan pernah bimbang, kaki-kakiku,
Ada DIA yang 'kan selalu menuntun langkahmu,
Yang tak pernah ragu bahkan 'tuk menopangmu saat smakin berat langkahmu...

Maka terus....teruslah berjalan, kaki-kakiku....ada pelangi indah menunggumu....

October 23, 2008

Dualitas Kehidupan

Berpelukannya sperma dan sel telur, inilah awal pertumbuhan manusia di bumi ini. Ia menjadi tanda-tanda awal makna kehidupan. Dan pertumbuhan hidup ini terjadi bila kita memeluk dualitas kehidupan. Baik terlihat karena ada buruk. Sukses terasa karena pernah gagal. Naik menjadi indah kalau pernah turun. Kesucian bergetar karena keluar dari kekotoran. Dan sukacita menjadi bermakna, bila pernah melalui suatu kesedihan.

Perhatikan anak-anak ! Mereka terlalu mudah bahagia. Terlalu gampang tertawa. Tidak mengalami kesulitan untuk berpelukan. Dalam kebebasan dari dualitas, sebagian besar anak-anak tidak punya hantu masa lalu. Dan tidak punya setan masa depan.

(taken from Gede Prama)

October 22, 2008

KISS [Keep It Simple Stupid]

Ini tulisan yang aku terima beberapa hari lalu di milis, dan nampaknya bagus untuk jadi renungan bagi kita. Mudah-mudahan suka :)
Seringkali kita terkecoh saat menghadapi suatu masalah, dan walaupun masalah tersebut terpecahkan, tetapi pemecahan yang ada bukanlah suatu pemecahan yang efisien dan justru malah terlalu rumit. Mari kita coba lihat dalam tiga kasus di bawah ini :
  1. Salah satu dari kasus yang ada adalah kasus kotak sabun yang kosong, yang terjadi di salah satu perusahaan kosmetik yang terbesar di Jepang. Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan yang mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun (terbuat dari bahan kertas) kosong.Dengan segera pimpinan perusahaan menceritakan masalah tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak kedepartemen pengiriman. Karena suatu alasan, ada satu kotak sabun yang terluput dan mencapai bagian pengepakan dalam keadaan kosong. Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut.Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin sinar X dengan monitor resolusi tinggi yang dioperasikan oleh dua orang untuk melihat semuakotak sabun yang melewati sinar tersebut dan memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong. Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit.Tetapi saat ada seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil dihadapkan pada permasalahan yang sama, ia tidak berpikir tentang hal-hal yang rumit, tetapi iamuncul dengan solusi yang berbeda. Ia membeli sebuah kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan. Ia menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angina tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari jalur pengepakan, karena kotak sabun terbuat dari bahan kertas yang ringan.
  2. Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol, karena tinta pulpentersebut tidak dapat mengalir ke mata pena. Untuk memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan waktu satu dekade dan 12 juta dolar. Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan- keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagai permukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperature mulai dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius. Dan apakah yang dilakukan para orang Rusia ??? ..... Mereka menggunakan pensil!
  3. Suatu hari, pemilik apartemen menerima komplain dari pelanggannya. Para pelanggan mulai merasa waktu tunggu mereka di pintu lift terasa lama seiring bertambahnya penghuni di apartemen itu. Dia (pemilik) mengundang sejumlah pakar untuk men-solve that problemo. Satu pakar menyarankan agar menambah jumlah lift. Tentu, dengan bertambahnya lift, waktu tunggu jadi berkurang. Pakar lain meminta pemilik untuk mengganti lift yang lebih cepat, dengan asumsi,semakin cepat orang terlayani. Kedua saran tadi tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Tetapi, satu pakar lain hanya menyarankan satu hal, "Inti dari komplain pelanggan anda adalah mereka merasa lama menunggu". Pakar tadi hanya menyarankan untuk menginvestasikan kaca cermin di depan lift, agar pelanggan teralihkan perhatiannya dari pekerjaan "menunggu" dan merasa "tidak menunggu lift".

Moral cerita ini adalah sebuah filosofi yang disebut KISS (Keep It Simple Stupid), yaitu selalu mencari solusi yang sederhana, sehingga bahkan orang bodoh sekalipun dapat melakukannya.

Cobalah menyusun solusi yang paling sederhana dan memungkinkan untuk memecahkan masalah yang ada. Maka dari itu, kita harus belajar untuk fokus pada solusi daripada pada berfokus pada masalah.

October 11, 2008

Christie Learns To Be A Model...[and I Learn To Be A Photographer]





She is so adorable, isn't she ??? When I look at her pictures again, I just could not believe that she is 10 y.o now....it seems like yesterday when she was still my fatty chubby Christie....these pictures, as well as other bunch of collection from my "Today Christie" Photo Album,  were taken during our Lebaran holiday at our family house in Puncak, West Java. 

I specially remember this moment, as this was a good collaboration between the model, Christie, and the photographer, my self. We both were so excited, and purposely woke up so early just to make these pictures...oya, more about this day, we both then need to took an 1.5 hours shower together after this "itchy-bitchy" photo session :) 

September 26, 2008

Tembok Penghalang

[tembok penghalang itu ada untuk suatu alasan....]

Saat sedang meniti karir, mengejar cinta ataupun impian, apapun itu, seringkali kita dihadapkan dengan "tembok penghalang" yang berdiri kokoh didepan kita....menghadang kita...terkadang membuat kita berhenti dan tak dapat melanjutkan perjalanan kita....

Namun yakinlah....tembok penghalang itu berdiri disana karena suatu alasan tertentu, yakni memberi kita kesempatan untuk menunjukkan sekuat apa kita menginginkan sesuatu...

[As quoted from The Last Lecturer by Randy Pausch,.....its a nice book ! a must to read, pals!]

September 25, 2008

TAF Alumni Gathering


[TAF Alumni Gathering 2008]

Setelah cukup lama berpisah dan saling berpindah kantor, paling tidak sejak diriku sendiri hijrah ke Papua pada pertengahan 2004 lalu, maka Selasa sore kemarin adalah pertemuan pertama kami dalam jumlah besar. Dalam pertemuan kecil tentunya kami masih suka bertemu entah dalam moment makan siang bersama, ngopi bareng, curhat bareng, atau dalam moment khusus seperti pernikahan maupun duka-cita. 

Dipertemukan semasa bekerja di The Asia Foundation Indonesia [TAF], entah mengapa atmosphere pertemanan di kantor ini terasa begitu berbeda bila dibandingkan  saat bekerja di kantor-kantor lain, baik sebelum bahkan setelah masa bekerja di TAF. Paling tidak bagi mereka yang bekerja di kantor ini pada periode tahun 1999-2004 [hehehe]. Dan hal inipun diakui oleh kami semua, bahkan pihak lain yang melihat kekompakan kami termasuk oleh boss kami, hingga pernah menjadi kekhawatiran para boss melihat kekompakan kami [yang ini mungkin karena takut kami kompak bolos bareng, atau demo minta kenaikan gaji bareng..hehehe...]  

Kekompakan tidak cuma terjadi diantara rekan kerja dalam unit yang sama dan level yang sama, tapi bahkan hingga ke unit lain dan level berbeda. Adalah hal yang biasa antara Programme Officer, Program Assistant, para Secretary / team admin termasuk finance untuk ngumpul dan hangout bareng dalam berbagai kesempatan baik di dalam kota maupun di luar kota. Bahkan dengan para driver dan satpam pun kami terbiasa melibatkan mereka dalam moment-moment ngumpul bareng atau jalan bareng. Ketemu jodoh dan pernikahan pun terjadi baik pada unit yang berbeda, apalagi dalam unit yang sama. Berpacaran dan kemudian putus juga acap terjadi diantara kami...hehehe...aku sendiri dari unit Economic & SMEs juga bertemu jodohku dari unit IRDA/Governance yang kemudian menjadi suamiku. Temanku, Sari, yang juga bekerja untuk unit Economic & SMEs juga kemudian menikah dengan Bido, yang juga dari unit yang sama. Ada juga pernikahan yang terjadi dengan counterpart kami, misalnya Icha dari unit Islam & Civil Society yang kemudian menikah dengan mas Ian yang sebelumnya adalah partner dari unitku dan IRDA. Temanku, Stella, juga bertemu suaminya saat menghadiri seminar yang diadakan oleh kantor kami. Yang pacaran sesama rekan sekerja juga banyak terjadi, tetapi sebaiknya tidak kusebutkan disini :) Singkatnya, pernah ada joke yang bilang, kalau belum punya pacar dan mencari pacar/ jodoh, silahkan melamar ke kantor ini dan biasanya akan segera mendapatkan....hehehe...oya, bahkan pak satpam di kantor kami pun, pak Broto, juga menikah dengan office girl kantor kami, mbak Suki. Seru kan....??? :) 

Pertemanan semasa bekerja di TAF memang berbeda. Berbagai hal baik suka dan duka kami lalui bersama. Dan bersama kami juga saling membagi suka dan duka. Ulang tahun, promosi, pindah kantor, pindah rumah, dapat pacar, dapat rejeki alias naik gaji, putus pacar, pernikahan hingga peristiwa duka-cita baik kematian orangtua/saudara ataupun sekedar diomelin boss, adalah moment-moment dimana kami dapat saling berbagi, saling menghibur, saling mentertawakan alias saling mencela, juga saling menangis :) Oya, curhat dengan boss juga menjadi kenangan tak terlupakan bagiku ...pernah, saat teman satu teamku sedang curhat dan menangis karena baru putus dengan pacarnya, tiba-tiba boss kami, Roderick Brazier, masuk ke ruangan kami, melihat temanku menangis dan aku sedang memeluknya, Rod langsung menghampiri kami berdua, memeluk kami berdua dan menghibur temanku itu.....duuh, terharu kalau ingat ini....:) 

Pertemanan alumni TAF ini juga terus berlanjut hingga kami semua telah berpencar dan bekerja di tempat yang berbeda, berbeda daerah bahkan negara. Jaringan TAF alumni bahkan telah meluas hingga ke ujung barat dan timur Indonesia hingga Australia, America, Sweden dan Norway. Juga menyebar diberbagai organisasi baik lokal maupun international, hingga kantor lembaga profit. World Bank, lembaga-lembaga PBB [seperti UNICEF, UNIFEM UNDP], NDI, RTI, Partnership, USAID, AUSAID, bahkan ada yang telah menjadi pengusaha florist  hingga pengusaha penyewaan DVD di Canberra, Australia :) Dan tentunya alumni TAF juga semakin meningkatkan karir dan keahliannya hingga ke berbagai bidang. Ada yang sekarang telah menjadi peneliti masalah sosial, top-notch lawyer, konsultan DPR dan ahli per-UUan, aktivis perempuan, aktivis HAM, ahli media, bahkan anggota DPR RI dan saat ini ada juga yang sedang berjuang menjadi caleg 2009 :) TAF Alumni memang ga ada matinya....saling memotivasi dan berlomba-lomba untuk dapat menjadi lebih baik juga biasa terjadi dalam persahabatan kami. Walhasil banyak diantara kami yang kemudian ramai-ramai menjadi mahasiswa pasca sarjana bahkan hingga doktor, baik didalam maupun luar negeri...yang jelas, ga ada diantara kami yang membeli gelar....yang satu ini, haram hukumnya....kebanyakan kami mendedikasikan diri dan waktu untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik, maka kecurangan selalu kami usahakan untuk tidak pernah ada dalam kehidupan kami. 

Maka pertemuan kemarin menjadi saat yang membahagiakan bagi kami. Semua yang hadir dalam acara semalam saling berbagi tawa dan kegembiraan, walaupun juga tetap dihiasi dengan saling mencela....hehehe....Kenangan semasa bekerja dibawah bendera yang sama telah menyatukan kami, dan semalam kami semua pun sepakat untuk tetap saling menjaga tali silahturahmi diantara kami. 

Sungguh indah persahabatan ! Semoga senantiasa terjaga hingga kami tua nanti....

September 23, 2008

Christie Learns About Tolerance



[Christie and her uncle Adi during their Buka Puasa]

This evening my niece, Christie, was made her self busy preparing break-fasting meals for her uncle Adi. She purposely asked me to let her prepare it by her own. From cleaning and preparing the dining table, heating the meals from microwave, placing it into the selected dishes by her choice, to lighting candles. Kolak pisang, rendang, mie-goreng, cap-cay including a cup of green tea are well prepared by her. She also accompanied her uncle Adi by eating together her Kolak pisang during this Buka Puasa. Only the two of them !

I was very proud with her! She has grown up in Christian-way, her parents and extended family are Christian except her uncle Adi, but still she has a heart to give her best to her non-Christian's uncle Adi.

I will remember especially this day, as she learns more about tolerance.

September 22, 2008

Mop Papua :)

Dari Sabang sampai Merauke

Ada dua pace Papua. Satu dari Sorong, satu lagi Merauke, sedang bakala'i. Cape bakala'i dorong dua stop baku pukul dan mulai baku maki.

Pace dari Sorong: "eeh, ko orang Merauke,....awas kalo ko pi Jakarta, ko jangan berani lewat Sorong eee..."

Pace dari Merauke tra mau kalah: "eeh, ko orang Sorong, ...awas ko kalo upacara, jangan ko berani menyanyi "Dari Sabang sampai Merauke"...Ko stop saja di Sorong eee...."

Kasi Air Panas

Ada satu orang anak Papua, nama Obed. Suatu pagi dia dapa suruh sama de pu bapa :"kalau ada de pu bapa pu kawan yang datang, suruh tunggu dan sekalian tolong dikasih air panasnya" [maksudnya air minum].
Pace: "Obed, nanti kalo bapa pu kawan datang, kasi air panas yaa?"

Obed: "Beres bapa...., jang khawatir, pasti sa kasi nanti...."

Selanjutnya pace pi mandi. Tra lama begini pace pu teman dua datang. 

Pace pu teman: "Permisi....Obed....ko pu bapa ada?"
Obed: "Bapa lagi mandi...."

Tra pikir panjang lagi, Obed ke blakang ambil aer panas ke depan dan langsung siram air panas ke pace pu teman itu. Dong dua lari sudah mo...! Setelah selesai mandi, pace tanya:

"Obed, mana bapa pu teman, dong su datang kaah ?"

Obed:"Sudah, maah sa su kasi air panas mendidih di dong dua pu badan, yang satu orang kabur, satunya lagi pu badan melepuh-mplepuh,"

Pace: "hahhhhh....????"

Manis Cake Pudding, Semanis Persahabatan...

[Pertemuan di Bandara Adi Sucipto : Abrar, Hezra, me and hubby]

Sabtu siang lalu, sesaat sebelum menaiki pesawat yang akan membawa kami kembali ke Jakarta, kembali kami bertemu Hezra dan Abrar di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. Ternyata Hezra dan suaminya secara khusus datang untuk mengantarkan cake pudding buatannya dan anaknya, Sachy. Waah...aku sungguh sangat terharu dengan kebaikan Hezra dan terutama pengorbanannya meluangkan sabtu paginya untuk membuatkanku cake pudding tersebut.... 

Malam harinya, aku dan saudara-saudaraku berkumpul dirumah abangku. Sejak papah meninggal dan kami menjadi yatim-piatu, kami memang semakin terbiasa berkumpul bersama khususnya di akhir minggu atau bila liburan tiba. Dan pertemuan sabtu malam itu terasa semakin lengkap karena kehadiran sahabatku yang lain: eda Irena Sirait, Ully Panjaitan, dan Ellen. Gudeg Yu Djum yang dibawa khusus dari Yogya adalah makan malam kami, dan dessertnya adalah cake pudding Hezra. Banyak yang memuji kelezatan cake pudding Hezra, seraya dengan bangganya aku berbagi cerita pertemuanku dengan Hezra dan bagaimana Hezra dan suaminya secara khusus mengantarkan cake pudding tersebut di bandara Yogya. 

Ternyata ada cerita yang jauh lebih mengharukan sekaligus membanggakan dari cake pudding Hezra. Dibawah ini adalah tulisan Hezra yang kuambil dari blog-nya, dan ingin kubagi disini...Cerita tentang manisnya cake pudding dan manisnya persahabatan....Hidup kita akan semakin kaya dan bermakna bila kita memiliki sahabat. Sesungguhnya para sahabat adalah juga kekayaan kita. Semoga kita semua memilikinya, dan semakin kayalah hidup kita oleh kehadiran para sahabat...

[...another thanks to my God for keep showing me on the miracle of love and friendship in my daily life...]

Manis Cake Pudding, Semanis Persahabatan

Menyenangkan! kata itu lebih mewakili apa yang saya rasakan setelah pertemuan dengan seorang sahabat yang sebelumnya saya kenal di dunia virtual. Jum'at, di Lobi Hotel Grand Mercure Jogjakarta saya bertemu sahabat saya itu, saya bersama suami begitupun dia. Jam 8 lewat 43 menurut pengaturan di ponsel saya, kami bertemu.

Bercerita banyak hal dari lebih banyak lagi yang sebenarnya ingin dibagi. Saya mendapat cerita menarik mengenai masyarakat Papua yang ternyata takut dengan paras melayu, perempuan dengan kulit lebih kuning dan rambut hitam panjang. "mereka bisa lari, melihatmu," katanya.

Di malam hari, setelah pertemuan itu, saya mebaca blog nya. Ada tulisan yang baru diposting. Mengenai pertemuan kami. Menyenangkan!

Pagi hari, Sachy anak saya berusia 2 tahun 4 bulan merengek meminta dibuatkan puding. Biasanya, karena kemalasan, cukup dengan merebus air, gula dan gelatin. Setelah itu dibiarkan dingin, Sachy sudah begitu lahap memakan.

Pagi hari ini, saya lebih 'melek' dapur. Ada beberapa bahan yang bisa dimanfaatkan. Mentega, Gula, Tepung, Telur dan Gelatin. Dan saya mencampur kesemua bahan itu, hingga menjadi sebuah cake pudding. Dibantu Sachy, dia yang mengukur gula dalam gelas, menuangkannya. Memegangi mixer, sambil berkata "kakak bisa kan Ma?".

Saya ingat, saya sudah lama tidak membuat cake pudding ini. Terakhir ialah ketika masih tinggal di Jakarta, berarti sudah seumur Sachy. Tepatnya 2 tahun 5 bulan.

Mengenang kehidupan di sana, menimbulkan sensasi yang menyesakkan di dada. Tidak mampu ditolak. Begitupula kenangan dengan cake pudding ini. 

(ah, teman.. airmata lagi-lagi tak mampu kubendung...)

...

Saya tinggal di Petukangan Utara, tidak jauh dari kampus Budi Luhur. Tidak genap satu tahun saya tinggal di sana, tetapi cukup untuk mengetahui kejamnya Jakarta. Mungkin kehidupan saya masih jauh lebih beruntung dibandingkan beberapa tetangga lain, walau saya hidup tidak bermewahan. 

Begini, saya perkenalkan salah seorang sahabat saya. Saya tidak mengetahui nama asli nya. Saya memanggilnya Uni. Dari sapaannya bisa kita tebak, kalau Uni berasal dari Sumatera Barat, Padang tepatnya. Dia hidup bersama Uda, suaminya dan kedua anak yang saat itu masing-masing kelas 2 SD dan TK. Hidup mereka sangat sederhana, bangunan yang mereka tempati sangat multifungsi. Ukuran kseluruhan tidak sampai satu setengah halte busway. Separuh dari bangunan tersebut dipergunakan untuk berjualan. Warung dengan isi berjejal-jejal. Sisanya dipergunakan sebagai kamar tidur, ruang makan, ruang keluarga, ruang tamu --walau tidak memungkinkan--, dan dapur. Setau saya, tidak ada kamar. Kasur mereka gelar jika malam dan dilipat jika pagi datang. 

Di ruang terbatas itulah Uni menjadi seorang wanita perkasa. Wanita yang selalu menginspirasi saya. Wanita yang selalu mengingatkan saya jika saya sudah mulai larut dalam kesenangan dunia. Jika saya sudah tidak tanggap dengan sekitar. Dia, wanita berkulit sawo matang yang tubuhnya tak lagi dibalut daging dengan cukup.

Aktifitas Uni sama seperti kebanyakan ibu rumah tangga lain. Jam 2 subuh sudah terjaga, mencuci pakaian dan menyetrika, khusus seragam sekolah kedua anaknya, pakaian Uda dan dirinya tidak perlu menurutnya. Lalu menyiapkan sarapan dan menghitung stok barang-barang yang dijual, aneka rupa. Ketika anak bersekolah, dia berjualan membuka toko kebutuhan sehari-hari sementara Uda berdagang keliling, kadang juga hanya di rumah. Seraya berjualan, dengan seribu tangannya, ia juga memasak. Nanti, sepulang sekolah, di tiap sore jari selepas sholah Ashar, Uni selalu mengajari kedua anaknya.

Belajar di sini adalah dalam arti sesungguhnya. Yang membuat saya sangat miris ialah semangat mereka. Semangat Uni untuk mendidik kedua anaknya, semangat yang saya duga mulai luntur akibat beratnya himpitan ekonomi. Di antara tumpukan barang-barang kelontong, ada tumpukan kardus-kardus berdebu hingga ke langit-langit, jejeran pembalut beberapa merk, tumpukan obat nyamuk bakar, kapas, sampai obat gosok dan cutton bud saling berjejal-jejal. ada juga etalase kecil yang memajang benang-benang dan jarum, ikat-ikat rambut aneka rupa, aksesoris dan lainnya. Lalu, di bagian atas tergantung snack-snack Taro, Cetos dan lainnya, menghalangi sinar lampu 5 watt yang tidak pernah dipadamkan. Sedikit ke depan, ada freezer untuk menyimpan es krim walls, saya kira hasil subsidi--kalau boleh dikatakan begitu-- oleh pemilik merk dagang. 

Lorong tempat calon pembeli memilih-milih barang ialah celah sempit seukuran se-lengan orang dewasa, dan di situlah kedua anak belajar dibawah bimbingan Uni. Alas yang mereka gunakan ialah kardus. Si sulung mengulang pelajaran di sekolah dan mem-preview apa yang akan diajarkan besok. Sementara si Adik belajar mengaji. Uni selalu menggunakan alat bantu. Sebuah rotan tipis, mengingatkan saya akan guru mengaji di waktu kecil dulu. "Anak, harus dibantu dengan sedikit keras untuk disiplin," ujarnya.

Saat itu saya sedang hamil, mungkin karena saya mengandung anak perempuan, saya mendadak jadi hobi bikin kue. Hal yang sebelumnya jarang saya lakukan, kecuali lebaran di Pontianak dulu. Yang paling menyenangkan ialah saat berbagi yang sedikit saya buat itu kepada beberapa tetangga, termasuk Uni dan anak-anaknya --yang lain, akan saya ceritakan nanti--. Yang menjadi favorite anak-anak itu adalah cake pudding. 

Berkali-kali Uni menyatakan ingin diajari membuatnya. Saya jadi malu, rasanya tidak pantas mengajari, wong hanya mudah begitu.. 

Tentu saja saya tidak keberatan. Jadwal kegiatan Uni jauh dari santai. Hingga hari itu, dia datang ke rumah membawa bahan-bahan yang jauh lebih banyak dari yang diperlukan. "saya sudah minta ijin Uda, bisa sampai jam 4". Ada waktu dua jam, lebih dari cukup. "membuatnya tidak lebih 15 menit Uni".

Sambil kami membuat bersama, kami juga bercerita banyak hal. Tau, apa rencananya?

Saat itu aku menangkap kerisauan jiwanya yang tampak kosong. Tatapannya menerawang jauh. Jauhhh...ke tempat yang tidak mampu saya gapai. Dia menelan ludah, dan bunyinya masih bisa saya dengar sampai sekarang, terasa pahit. "bisakah anak saya terus sekolah mbak?," tanyanya membuat saya terdiam.

Saya ingin mengucapkan "bisa!" untuk menyemangati, tapi saya duga dia lebih tahu jawabannya. Menggantungkan hidup pada warung, tidak terlalu menguntungkan bagi mereka. Banyaknya tetangga yang berhutang sementara sulit sekali ditagih, membuat mereka tidak berdaya. barang-barang yang melonjak naik membuat mereka kewalahan untuk 'kulakan'. Belum lagi barang-barang kadaluarsa yang terpaksa harus mereka buang. Memang daya beli masyarakat turun drastis tahun-tahun belakangan ini. Dengan kenyataan seperti ini, saya tidak boleh asal bicara. Mendengar, itu saja yang sanggup saya lakukan.

Dia berencana untuk mengasuransikan kedua anaknya. Menurutnya, dia dan suami tidak akan sanggup membiayai pendidikan anak mereka sampai ke jenjang tertinggi. Satu-satunya harapan ialah bertaruh dengan asuransi.

...

Tetanggaku yang lain tepat di depan rumah bernama Mpok Nia, Betawi campuran Sunda. Punya anak 4 dengan jarak sangat rapat, bahkan masih punya bayi. Suaminya tidak bekerja dan masih menggantungkan kehidupan sehari-hari kepada mertuanya, yang sudah lanjut usia. Mereka bukan pemalas pada dasarnya, tetapi lapangan pekerjaan dan terbiasa menganggur membuat mereka menjadi biasa menjalani hidup seperti itu. Seringkali Mpok Nia ini kewalahan jika salah satu anak ada yang sakit. Bahkan, di saat anak terkecil beranjak setahun, Mpok Nia sudah hamil lagi. Kurangnya hiburan membuat aktifitas seks menjadi satu-satunya hiburan yang lebih menarik.

Tempat tinggal mereka juga tidak lebih baik dari rumah Uni. Sebuah rumah petak yang dibagi untuk 3 keluarga. Hanya ada satu kamar mandi yang dipergunakan bersama dan bergantian tentu. Sebuah ruang yang jauh lebih multifungsi. Tempat tidur, makan, menyetrika, berkumpul, menonton, masak semua jadi satu di ruangan 3x3,5m. Ada kelambu di situ, saya menduga itulah peraduan ternyaman bagi mereka. Anak-anak tidur tergeletak di lantai tak beralas. Semen dingin kasar tanpa di lapis untuk ebih halus. 

Keluarga yang lain ialah keluarga Padang juga, saya memanggilnya Uda, dengan juga tidak mengetahui nama asli mereka. Mereka berprofesi sebagai penjahit. Suami dan istri. Ah, miris rasanya jika membandingkan nasib mereka dengan penjahit lain tempat saya menjahit pakaian. Tarif yang biasa dikenakan untuk menjahit sepotong baju atasan ialah antara 60.000 sampai 80.000 rupiah. Bisa lebih tergantung bahan. Hanya saja, tarif seperti itu tidak akan ditemukan di tempat Uda. Tentu saja tarifnya jauh lebih murah, walau warga situ menganggap cukup mahal. Untuk blus atau kemeja pria, Uda menarik tarif 25.000 Rupiah, 35.000 untuk celana kain. Bukan main murahnya kan? 

Tetapi, peminat jahitan Uda ini tidak banyak, sehingga Uda masih harus menjajakan berkeliling menggunakan sepeda baju-baju buatannya. Per helai, beragam. Ada yang Rp. 5.000, dan kalau ditawar lagi malah bisa 10.000 dapat 3 helai. sementara yang paling mahal berharga 30.000, sebuah baju kurung. memang, tidak bisa berharap banyak pada mode. Jahitan Uda bisa dikatakan ketinggalan jaman. Tapi lagi, kalau dipikir-pikir, mau dapat untung dari mana ya?

Awalnya saya tidak tahu mengenai harga jahitan Uda ini. Baru mengetahui begitu Mbok'e --yang menemani saya-- membeli beberapa helai, "untuk yang di kampung, Mbak..,"katanya. 

Keluarga yang satu lagi berasal dari Jawa. Mbak Yati. Cantik, dan selalu berdandan. Mbak Yati berusaha warteg, pembelinya lumayan. Mbak Yati seorang yang supel, periang dan baik hati. Dia juga sering membawa oleh-oleh jika setibanya kembali dari kampung. Oleh-oleh andalannya ialah pisang ambon dengan ukuran jumbo. Hampir tidak menyangka kalau itu pisang ambon. 

(Ah... betapa wajah mereka melintas tiba-tiba, aku kangen...).

...

Kepindahan ke Jogja memang bukan hal yang direncanakan jauh-jauh hari. Bahkan saya hanya punya waktu seminggu dari keputusan akan pindah ke Jogja untuk mempersiapkan segalanya. Tentu berhubungan dengan kehamilan saya yang mendekati HPL --Hari Perkiraan Lahir--. Sehingga tetangga pun baru saya beritahu sehari sebelum kepindahan.

Sore itu, saya dan suami berkeliling, berpamitan pada tetangga. Mereka kaget, begitupun saya sesungguhnya. Tidak menyangka akan berpisah segera. Keesokan paginya, ternyata jauh lebih mengharukan. Mereka membantu mengemasi barang-barang, bahkan memberi saya banyak kenang-kenangan. Membekali dengan aneka makanan, memberi perlengkapan untuk kelahiran nanti. Saat bersalaman, mereka; Uni warung, Uni penjahit, Mpok Nia dan Mbak Yati saling menangis. Saya sebenarnya tak kuat juga menahan tangis.

Uni pemilik warung memeluk saya erat, seperti baru kehilangan sesuatu. "Kita akan ketemu lagi, nanti saya akan main ke sini," saya coba menghibur. "enggak! kita nggak akan ketemu lagi!!" itu yang dibisikkan Uni, dengan matanya yang merah dan penuh airmata. Saya tidak mengerti.

...

Belum genap 2 bulan kepindahan saya, saya menerima kabar Uni pemilik warung sudah Almarhum. Di susul kemudian dengan Mpok Nia yang masuk Rumah Sakit Jiwa. dua bulan setelahnya, Mbak Yati juga meninggal. Dan yang lebih menyakitkan lagi, rumah petak yang mereka tinggali telah rata dengan tanah. Ketidakmampuan mereka membayar kontrakan, menyebabkan pemilik memilih menghancurkan saja ketimbang memberi tumpangan gratis. 

...

Siang ini, saya berniat memberikan secetak cake pudding yang saya buat bersama Sachy pada seorang sahabat yang saya temui malam hari tadi. Cake pudding yang selalu mengingatkan saya akan seorang sahabat lain yang telah tiada, yang airmatanya menggenang saat berpisah, yang pelukannya masih terasa hingga sekarang, yang tulang-tulangnya kalah keras dengan semangatnya, yang rencananya menyekolahkan anak setinggi-tingginya hancur berantakan karena takdir. Sahabat saya yang telah tiada itu bernama Uni, hanya itu nama yang saya ketahui. dan semoga, sahabat yang akan menerima cake pudding ini juga dapat merasakan manisnya persahabatan yang kami jalin. Manisnya cake puding, semanis persahabatan. 

(nb. bu, kita tinggal menunggu pertemuan kedua untuk mendatangakan pertemuan-pertemuan selanjutnya...)