September 22, 2008

Mop Papua :)

Dari Sabang sampai Merauke

Ada dua pace Papua. Satu dari Sorong, satu lagi Merauke, sedang bakala'i. Cape bakala'i dorong dua stop baku pukul dan mulai baku maki.

Pace dari Sorong: "eeh, ko orang Merauke,....awas kalo ko pi Jakarta, ko jangan berani lewat Sorong eee..."

Pace dari Merauke tra mau kalah: "eeh, ko orang Sorong, ...awas ko kalo upacara, jangan ko berani menyanyi "Dari Sabang sampai Merauke"...Ko stop saja di Sorong eee...."

Kasi Air Panas

Ada satu orang anak Papua, nama Obed. Suatu pagi dia dapa suruh sama de pu bapa :"kalau ada de pu bapa pu kawan yang datang, suruh tunggu dan sekalian tolong dikasih air panasnya" [maksudnya air minum].
Pace: "Obed, nanti kalo bapa pu kawan datang, kasi air panas yaa?"

Obed: "Beres bapa...., jang khawatir, pasti sa kasi nanti...."

Selanjutnya pace pi mandi. Tra lama begini pace pu teman dua datang. 

Pace pu teman: "Permisi....Obed....ko pu bapa ada?"
Obed: "Bapa lagi mandi...."

Tra pikir panjang lagi, Obed ke blakang ambil aer panas ke depan dan langsung siram air panas ke pace pu teman itu. Dong dua lari sudah mo...! Setelah selesai mandi, pace tanya:

"Obed, mana bapa pu teman, dong su datang kaah ?"

Obed:"Sudah, maah sa su kasi air panas mendidih di dong dua pu badan, yang satu orang kabur, satunya lagi pu badan melepuh-mplepuh,"

Pace: "hahhhhh....????"

Manis Cake Pudding, Semanis Persahabatan...

[Pertemuan di Bandara Adi Sucipto : Abrar, Hezra, me and hubby]

Sabtu siang lalu, sesaat sebelum menaiki pesawat yang akan membawa kami kembali ke Jakarta, kembali kami bertemu Hezra dan Abrar di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. Ternyata Hezra dan suaminya secara khusus datang untuk mengantarkan cake pudding buatannya dan anaknya, Sachy. Waah...aku sungguh sangat terharu dengan kebaikan Hezra dan terutama pengorbanannya meluangkan sabtu paginya untuk membuatkanku cake pudding tersebut.... 

Malam harinya, aku dan saudara-saudaraku berkumpul dirumah abangku. Sejak papah meninggal dan kami menjadi yatim-piatu, kami memang semakin terbiasa berkumpul bersama khususnya di akhir minggu atau bila liburan tiba. Dan pertemuan sabtu malam itu terasa semakin lengkap karena kehadiran sahabatku yang lain: eda Irena Sirait, Ully Panjaitan, dan Ellen. Gudeg Yu Djum yang dibawa khusus dari Yogya adalah makan malam kami, dan dessertnya adalah cake pudding Hezra. Banyak yang memuji kelezatan cake pudding Hezra, seraya dengan bangganya aku berbagi cerita pertemuanku dengan Hezra dan bagaimana Hezra dan suaminya secara khusus mengantarkan cake pudding tersebut di bandara Yogya. 

Ternyata ada cerita yang jauh lebih mengharukan sekaligus membanggakan dari cake pudding Hezra. Dibawah ini adalah tulisan Hezra yang kuambil dari blog-nya, dan ingin kubagi disini...Cerita tentang manisnya cake pudding dan manisnya persahabatan....Hidup kita akan semakin kaya dan bermakna bila kita memiliki sahabat. Sesungguhnya para sahabat adalah juga kekayaan kita. Semoga kita semua memilikinya, dan semakin kayalah hidup kita oleh kehadiran para sahabat...

[...another thanks to my God for keep showing me on the miracle of love and friendship in my daily life...]

Manis Cake Pudding, Semanis Persahabatan

Menyenangkan! kata itu lebih mewakili apa yang saya rasakan setelah pertemuan dengan seorang sahabat yang sebelumnya saya kenal di dunia virtual. Jum'at, di Lobi Hotel Grand Mercure Jogjakarta saya bertemu sahabat saya itu, saya bersama suami begitupun dia. Jam 8 lewat 43 menurut pengaturan di ponsel saya, kami bertemu.

Bercerita banyak hal dari lebih banyak lagi yang sebenarnya ingin dibagi. Saya mendapat cerita menarik mengenai masyarakat Papua yang ternyata takut dengan paras melayu, perempuan dengan kulit lebih kuning dan rambut hitam panjang. "mereka bisa lari, melihatmu," katanya.

Di malam hari, setelah pertemuan itu, saya mebaca blog nya. Ada tulisan yang baru diposting. Mengenai pertemuan kami. Menyenangkan!

Pagi hari, Sachy anak saya berusia 2 tahun 4 bulan merengek meminta dibuatkan puding. Biasanya, karena kemalasan, cukup dengan merebus air, gula dan gelatin. Setelah itu dibiarkan dingin, Sachy sudah begitu lahap memakan.

Pagi hari ini, saya lebih 'melek' dapur. Ada beberapa bahan yang bisa dimanfaatkan. Mentega, Gula, Tepung, Telur dan Gelatin. Dan saya mencampur kesemua bahan itu, hingga menjadi sebuah cake pudding. Dibantu Sachy, dia yang mengukur gula dalam gelas, menuangkannya. Memegangi mixer, sambil berkata "kakak bisa kan Ma?".

Saya ingat, saya sudah lama tidak membuat cake pudding ini. Terakhir ialah ketika masih tinggal di Jakarta, berarti sudah seumur Sachy. Tepatnya 2 tahun 5 bulan.

Mengenang kehidupan di sana, menimbulkan sensasi yang menyesakkan di dada. Tidak mampu ditolak. Begitupula kenangan dengan cake pudding ini. 

(ah, teman.. airmata lagi-lagi tak mampu kubendung...)

...

Saya tinggal di Petukangan Utara, tidak jauh dari kampus Budi Luhur. Tidak genap satu tahun saya tinggal di sana, tetapi cukup untuk mengetahui kejamnya Jakarta. Mungkin kehidupan saya masih jauh lebih beruntung dibandingkan beberapa tetangga lain, walau saya hidup tidak bermewahan. 

Begini, saya perkenalkan salah seorang sahabat saya. Saya tidak mengetahui nama asli nya. Saya memanggilnya Uni. Dari sapaannya bisa kita tebak, kalau Uni berasal dari Sumatera Barat, Padang tepatnya. Dia hidup bersama Uda, suaminya dan kedua anak yang saat itu masing-masing kelas 2 SD dan TK. Hidup mereka sangat sederhana, bangunan yang mereka tempati sangat multifungsi. Ukuran kseluruhan tidak sampai satu setengah halte busway. Separuh dari bangunan tersebut dipergunakan untuk berjualan. Warung dengan isi berjejal-jejal. Sisanya dipergunakan sebagai kamar tidur, ruang makan, ruang keluarga, ruang tamu --walau tidak memungkinkan--, dan dapur. Setau saya, tidak ada kamar. Kasur mereka gelar jika malam dan dilipat jika pagi datang. 

Di ruang terbatas itulah Uni menjadi seorang wanita perkasa. Wanita yang selalu menginspirasi saya. Wanita yang selalu mengingatkan saya jika saya sudah mulai larut dalam kesenangan dunia. Jika saya sudah tidak tanggap dengan sekitar. Dia, wanita berkulit sawo matang yang tubuhnya tak lagi dibalut daging dengan cukup.

Aktifitas Uni sama seperti kebanyakan ibu rumah tangga lain. Jam 2 subuh sudah terjaga, mencuci pakaian dan menyetrika, khusus seragam sekolah kedua anaknya, pakaian Uda dan dirinya tidak perlu menurutnya. Lalu menyiapkan sarapan dan menghitung stok barang-barang yang dijual, aneka rupa. Ketika anak bersekolah, dia berjualan membuka toko kebutuhan sehari-hari sementara Uda berdagang keliling, kadang juga hanya di rumah. Seraya berjualan, dengan seribu tangannya, ia juga memasak. Nanti, sepulang sekolah, di tiap sore jari selepas sholah Ashar, Uni selalu mengajari kedua anaknya.

Belajar di sini adalah dalam arti sesungguhnya. Yang membuat saya sangat miris ialah semangat mereka. Semangat Uni untuk mendidik kedua anaknya, semangat yang saya duga mulai luntur akibat beratnya himpitan ekonomi. Di antara tumpukan barang-barang kelontong, ada tumpukan kardus-kardus berdebu hingga ke langit-langit, jejeran pembalut beberapa merk, tumpukan obat nyamuk bakar, kapas, sampai obat gosok dan cutton bud saling berjejal-jejal. ada juga etalase kecil yang memajang benang-benang dan jarum, ikat-ikat rambut aneka rupa, aksesoris dan lainnya. Lalu, di bagian atas tergantung snack-snack Taro, Cetos dan lainnya, menghalangi sinar lampu 5 watt yang tidak pernah dipadamkan. Sedikit ke depan, ada freezer untuk menyimpan es krim walls, saya kira hasil subsidi--kalau boleh dikatakan begitu-- oleh pemilik merk dagang. 

Lorong tempat calon pembeli memilih-milih barang ialah celah sempit seukuran se-lengan orang dewasa, dan di situlah kedua anak belajar dibawah bimbingan Uni. Alas yang mereka gunakan ialah kardus. Si sulung mengulang pelajaran di sekolah dan mem-preview apa yang akan diajarkan besok. Sementara si Adik belajar mengaji. Uni selalu menggunakan alat bantu. Sebuah rotan tipis, mengingatkan saya akan guru mengaji di waktu kecil dulu. "Anak, harus dibantu dengan sedikit keras untuk disiplin," ujarnya.

Saat itu saya sedang hamil, mungkin karena saya mengandung anak perempuan, saya mendadak jadi hobi bikin kue. Hal yang sebelumnya jarang saya lakukan, kecuali lebaran di Pontianak dulu. Yang paling menyenangkan ialah saat berbagi yang sedikit saya buat itu kepada beberapa tetangga, termasuk Uni dan anak-anaknya --yang lain, akan saya ceritakan nanti--. Yang menjadi favorite anak-anak itu adalah cake pudding. 

Berkali-kali Uni menyatakan ingin diajari membuatnya. Saya jadi malu, rasanya tidak pantas mengajari, wong hanya mudah begitu.. 

Tentu saja saya tidak keberatan. Jadwal kegiatan Uni jauh dari santai. Hingga hari itu, dia datang ke rumah membawa bahan-bahan yang jauh lebih banyak dari yang diperlukan. "saya sudah minta ijin Uda, bisa sampai jam 4". Ada waktu dua jam, lebih dari cukup. "membuatnya tidak lebih 15 menit Uni".

Sambil kami membuat bersama, kami juga bercerita banyak hal. Tau, apa rencananya?

Saat itu aku menangkap kerisauan jiwanya yang tampak kosong. Tatapannya menerawang jauh. Jauhhh...ke tempat yang tidak mampu saya gapai. Dia menelan ludah, dan bunyinya masih bisa saya dengar sampai sekarang, terasa pahit. "bisakah anak saya terus sekolah mbak?," tanyanya membuat saya terdiam.

Saya ingin mengucapkan "bisa!" untuk menyemangati, tapi saya duga dia lebih tahu jawabannya. Menggantungkan hidup pada warung, tidak terlalu menguntungkan bagi mereka. Banyaknya tetangga yang berhutang sementara sulit sekali ditagih, membuat mereka tidak berdaya. barang-barang yang melonjak naik membuat mereka kewalahan untuk 'kulakan'. Belum lagi barang-barang kadaluarsa yang terpaksa harus mereka buang. Memang daya beli masyarakat turun drastis tahun-tahun belakangan ini. Dengan kenyataan seperti ini, saya tidak boleh asal bicara. Mendengar, itu saja yang sanggup saya lakukan.

Dia berencana untuk mengasuransikan kedua anaknya. Menurutnya, dia dan suami tidak akan sanggup membiayai pendidikan anak mereka sampai ke jenjang tertinggi. Satu-satunya harapan ialah bertaruh dengan asuransi.

...

Tetanggaku yang lain tepat di depan rumah bernama Mpok Nia, Betawi campuran Sunda. Punya anak 4 dengan jarak sangat rapat, bahkan masih punya bayi. Suaminya tidak bekerja dan masih menggantungkan kehidupan sehari-hari kepada mertuanya, yang sudah lanjut usia. Mereka bukan pemalas pada dasarnya, tetapi lapangan pekerjaan dan terbiasa menganggur membuat mereka menjadi biasa menjalani hidup seperti itu. Seringkali Mpok Nia ini kewalahan jika salah satu anak ada yang sakit. Bahkan, di saat anak terkecil beranjak setahun, Mpok Nia sudah hamil lagi. Kurangnya hiburan membuat aktifitas seks menjadi satu-satunya hiburan yang lebih menarik.

Tempat tinggal mereka juga tidak lebih baik dari rumah Uni. Sebuah rumah petak yang dibagi untuk 3 keluarga. Hanya ada satu kamar mandi yang dipergunakan bersama dan bergantian tentu. Sebuah ruang yang jauh lebih multifungsi. Tempat tidur, makan, menyetrika, berkumpul, menonton, masak semua jadi satu di ruangan 3x3,5m. Ada kelambu di situ, saya menduga itulah peraduan ternyaman bagi mereka. Anak-anak tidur tergeletak di lantai tak beralas. Semen dingin kasar tanpa di lapis untuk ebih halus. 

Keluarga yang lain ialah keluarga Padang juga, saya memanggilnya Uda, dengan juga tidak mengetahui nama asli mereka. Mereka berprofesi sebagai penjahit. Suami dan istri. Ah, miris rasanya jika membandingkan nasib mereka dengan penjahit lain tempat saya menjahit pakaian. Tarif yang biasa dikenakan untuk menjahit sepotong baju atasan ialah antara 60.000 sampai 80.000 rupiah. Bisa lebih tergantung bahan. Hanya saja, tarif seperti itu tidak akan ditemukan di tempat Uda. Tentu saja tarifnya jauh lebih murah, walau warga situ menganggap cukup mahal. Untuk blus atau kemeja pria, Uda menarik tarif 25.000 Rupiah, 35.000 untuk celana kain. Bukan main murahnya kan? 

Tetapi, peminat jahitan Uda ini tidak banyak, sehingga Uda masih harus menjajakan berkeliling menggunakan sepeda baju-baju buatannya. Per helai, beragam. Ada yang Rp. 5.000, dan kalau ditawar lagi malah bisa 10.000 dapat 3 helai. sementara yang paling mahal berharga 30.000, sebuah baju kurung. memang, tidak bisa berharap banyak pada mode. Jahitan Uda bisa dikatakan ketinggalan jaman. Tapi lagi, kalau dipikir-pikir, mau dapat untung dari mana ya?

Awalnya saya tidak tahu mengenai harga jahitan Uda ini. Baru mengetahui begitu Mbok'e --yang menemani saya-- membeli beberapa helai, "untuk yang di kampung, Mbak..,"katanya. 

Keluarga yang satu lagi berasal dari Jawa. Mbak Yati. Cantik, dan selalu berdandan. Mbak Yati berusaha warteg, pembelinya lumayan. Mbak Yati seorang yang supel, periang dan baik hati. Dia juga sering membawa oleh-oleh jika setibanya kembali dari kampung. Oleh-oleh andalannya ialah pisang ambon dengan ukuran jumbo. Hampir tidak menyangka kalau itu pisang ambon. 

(Ah... betapa wajah mereka melintas tiba-tiba, aku kangen...).

...

Kepindahan ke Jogja memang bukan hal yang direncanakan jauh-jauh hari. Bahkan saya hanya punya waktu seminggu dari keputusan akan pindah ke Jogja untuk mempersiapkan segalanya. Tentu berhubungan dengan kehamilan saya yang mendekati HPL --Hari Perkiraan Lahir--. Sehingga tetangga pun baru saya beritahu sehari sebelum kepindahan.

Sore itu, saya dan suami berkeliling, berpamitan pada tetangga. Mereka kaget, begitupun saya sesungguhnya. Tidak menyangka akan berpisah segera. Keesokan paginya, ternyata jauh lebih mengharukan. Mereka membantu mengemasi barang-barang, bahkan memberi saya banyak kenang-kenangan. Membekali dengan aneka makanan, memberi perlengkapan untuk kelahiran nanti. Saat bersalaman, mereka; Uni warung, Uni penjahit, Mpok Nia dan Mbak Yati saling menangis. Saya sebenarnya tak kuat juga menahan tangis.

Uni pemilik warung memeluk saya erat, seperti baru kehilangan sesuatu. "Kita akan ketemu lagi, nanti saya akan main ke sini," saya coba menghibur. "enggak! kita nggak akan ketemu lagi!!" itu yang dibisikkan Uni, dengan matanya yang merah dan penuh airmata. Saya tidak mengerti.

...

Belum genap 2 bulan kepindahan saya, saya menerima kabar Uni pemilik warung sudah Almarhum. Di susul kemudian dengan Mpok Nia yang masuk Rumah Sakit Jiwa. dua bulan setelahnya, Mbak Yati juga meninggal. Dan yang lebih menyakitkan lagi, rumah petak yang mereka tinggali telah rata dengan tanah. Ketidakmampuan mereka membayar kontrakan, menyebabkan pemilik memilih menghancurkan saja ketimbang memberi tumpangan gratis. 

...

Siang ini, saya berniat memberikan secetak cake pudding yang saya buat bersama Sachy pada seorang sahabat yang saya temui malam hari tadi. Cake pudding yang selalu mengingatkan saya akan seorang sahabat lain yang telah tiada, yang airmatanya menggenang saat berpisah, yang pelukannya masih terasa hingga sekarang, yang tulang-tulangnya kalah keras dengan semangatnya, yang rencananya menyekolahkan anak setinggi-tingginya hancur berantakan karena takdir. Sahabat saya yang telah tiada itu bernama Uni, hanya itu nama yang saya ketahui. dan semoga, sahabat yang akan menerima cake pudding ini juga dapat merasakan manisnya persahabatan yang kami jalin. Manisnya cake puding, semanis persahabatan. 

(nb. bu, kita tinggal menunggu pertemuan kedua untuk mendatangakan pertemuan-pertemuan selanjutnya...)

September 20, 2008

Kopi Darat

["Copy Darat" sesama blogger, pertemuanku dengan Hezra]

Kopi Darat atau Copy Darat adalah istilah yang biasa dipakai sebagai bahasa prokem komunikasi oleh mereka yang menggunakan intercom, CB, HT, atau radio transmiter dua arah semacam itu....arti kopi darat sendiri adalah bertemu muka orang-orang yang berkomunikasi di udara [via gelombang radio]. Istilah ini juga seringkali digunakan saat trend radio anak muda pada tahun 70/80-an...yang kemudian dipopulerkan oleh penyiar radio Prambors Jakarta pada masa itu. 

Sekarang ini istilah kopi darat lazim digunakan oleh berbagai komunitas termasuk mereka yang berinteraksi di dunia maya/cyber. Nach, selama beberapa hari di Yogya rupanya kopi darat menjadi salah satu agenda saya juga. Ada yang memang direncanakan, ada juga yang tidak direncanakan namun terjadi saja.

Misalnya dengan Hezra, temanku sesama blogger. Malam tadi akhirnya kami bertemu di hotel tempatku menginap. Pertemanan yang diawali di dunia blogging berlanjut dengan saling berkirim SMS, dan akhirnya kami janjian bertemu malam ini bersama pasangan kami masing-masing. Dan sungguh menyenangkan karena ternyata suami Hezra, Abrar, juga sama-sama mendedikasikan karir di dunia development. What a small world ! Selain lebih mengenal Hezra [ga nyangka banget udah punya anak umur 2 tahun padahal masih terlihat seperti remaja hehehe], kami juga berbagi bermacam cerita. Misalnya malam ini aku menjadi lebih tahu mengenai gaya berlebaran di Pontianak, tempat asal Hezra dan Abrar, yang memiliki budaya saling kunjung mengunjungi bahkan hingga 1 bulan lamanya [waah...bisa-bisa gendut nih kalau disuguhi makanan disetiap rumah....hehehe], dan juga budaya 'rental peralatan rumah' menjelang lebaran tiba....terutama di daerah Singkawang dan Sambas, saban lebaran tiba setiap orang akan sibuk menata rumah, membeli kursi baru, mencat rumah, dsb. Yang lucu bahkan ada yang membuka jasa penyewaan perlengkapan rumah untuk membantu si pemilik rumah mendapat suasana rumah yang serba baru, mungkin daripada membeli, lebih baik menyewa pikir mereka...ada-ada adja yaa....:) 

Sebelum bertemu Hezra dan Abrar, terlebih dahulu kami tidak sengaja kopi darat dengan Dr. Hendra dari FHI/ASA. Dengan Dr Hendra ini kira-kira 3 tahun yll saya pernah tidak sengaja bertemu dan berkenalan dengan beliau saat sedang tugas kantor di Sorong, dan kebetulan sama-sama menginap di hotel yang sama [Hotel Waigeo, Sorong]. Setelah itu beberapa kali saya sempat menghubungi beliau via telepon, dan tidak pernah bertemu lagi hingga saat berada di Yogya ini...yang ternyata kali ini kami juga menginap di hotel yang sama. Akhirnya pertemuan dilanjutkan dengan makan malam bersama. Sungguh senang dapat bertemu kembali dengan Dr Hendra yang adalah seorang pakar khususnya dalam bidang HIV/AIDS yang saya hormati dan segani. 

Kopi darat tidak disengaja juga terjadi di kota Gudeg ini saat sarapan pagi di hotel, kami bertemu dengan sesama teman kami di milis kawincampur, Arie Perdana dan Juli beserta anak mereka yang lucu, Cemara. Pertemanan kami diawali saat sama-sama menjadi anggota milis yang beranggotakan pasangan beda agama, saling berbagi pengalaman dan suka duka menjalani hubungan dengan pasangan yang berbeda keyakinan, hingga saling berkomitmen untuk sama-sama berjuang melegalkan pernikahan beda agama :) Arie, Juli dan Cemara ternyata juga menginap di hotel yang sama. Dan sore tadi kami sempatkan berbincang-bincang di pinggir kolam renang. 

Senang sekali dalam kunjungan kali ini ke Yogya bisa "copy darat" dengan teman yang biasanya cuma kontak via dunia maya ataupun telepon. Dan senang sekali bila kemanapun kita pergi selalu ada teman berbincang dan berbagi. Dunia menjadi lebih berwarna sekaligus bermakna. 

Hezra dan Abrar, Arie, Juli dan Cemara serta Dr. Hendra, .... terimakasih untuk persahabatan yang indah. Semoga selalu terjalin dalam kasih dan ketulusan. 

Finally Enjoy ... Staying at Grand Mercure Hotel Yogyakarta

Saat mengunjungi Yogya beberapa bulan lalu, saya komplain mengenai pelayanan hotel tempat saya menginap disini. Namun pada saat check-out, Manager Hotel, Bapak Dodit Hapsoro, meminta maaf secara khusus pada saya dan hubby serasa berjanji bila kami kembali lagi ke hotel Grand Mercure Yogyakarta ini maka beliau akan meng-upgrade kamar kami. 

Nach, kami kembali lagi minggu ini. Dan menginap kembali di hotel ini. Dan kali ini tidak ada suara mesin AC di kamar yang berisik. Dan tentunya kami sangat senang mendapatkan kamar yang menghadap langsung ke swimming pool :) Maka trip kali ini ke Yogya menjadi lebih berkesan dengan kenyamanan dan pelayanan yang diberikan oleh pihak hotel. 

Terimakasih untuk menepati janji, Hotel Grand Mercure Yogyakarta. Semoga selalu memberikan pelayanan yang terbaik buat tamu-tamunya. Dan semoga kami pun dapat selalu menikmati fasilitas dan pelayanan terbaik anda saat berkunjung ke kota ini :) 

September 18, 2008

Good sleep, good learning, good life



Minggu ini kami kembali berada di Yogyakarta. Dan sore ini niatnya berenang bersama si hubby. Aku sudah berenang duluan...ditunggu-tunggu kok hubby ga muncul juga....hmm, ternyata dia tertidur di pinggir kolam ! Mungkin karena udara sore dengan hembusan angin membuatnya mengantuk, atau memang dasar penidur [yang benar yang terakhir siih hehehe] Suamiku memang orang yang mudah cepat tidur. Saat malam hari ga perlu berbaring terlalu lama di tempat tidur, dengan mudah suamiku akan langsung tertidur begitu mencium bantal..hehehe....aku sendiri sangat kebalikannya...sulit tidur...itu sebabnya aku senang menghabiskan malam dengan bermain internet, membaca maupun menonton TV ataupun film. 

Kalau kamu tipe orang yang cepat tertidur, entah itu saat duduk di mobil dalam perjalanan pergi/pulang ke kantor ataupun saat sambil menunggu, maka sepatutnya kamu bersyukur atas karunia "cepat tertidur" itu. Karena ternyata tidak semua orang mudah tidur. Banyak orang yang bahkan hingga larut malam belum juga bisa tidur. Sudah melakukan berbagai aktifitas tetapi tetap saja susah terlelap meski sudah mengantuk dan berbaring ditempat tidur yang empuk dikamar yang indah. Ternyata suasana kamar tidur yang indah maupun romantis tidak cukup dapat membuat orang tipe ini dapat dengan mudah menikmati tidur yang lelap. Bagi mereka dapat tertidur dengan mudah itu bagaikan suatu kemewahan. Bagiku, sebagaimana kusebut diawal tulisan, adalah suatu karunia. 

Orang yang mengalami gangguan susah tidur biasa disebut mengalami insomnia. Menurut ahli, penyebabnya bisa macam-macam misalnya karena faktor psikologi [stress, pikiran, dsb], adanya problem psikiatri [depresi, cemas, kekhawatiran, rasa takut, dsb], sakit fisik [sesak nafas/gangguan asma, flu, dsb], faktor lingkungan [daerah sekitar dekat rel KA, lintasan pesawat jet, daerah perang, pabrik, daerah sekitar berisik, dsb], dan juga karena gaya hidup [perokok, doyan ngopi, jam kerja tidak teratur, dsb]. 

Untuk penanganan susah tidur ini tentunya bermacam-macam. Yang penting adalah mencari tahu dulu penyebabnya. Jika karena faktor psikologi seperti stress atau beban pikiran maka disarankan untuk menghilangkan stress tersebut, atau paling tidak menguranginya. Bagaimana menghilangkan stress ya tentunya dengan mencari tahu terlebih dahulu apa yang menyebabkan kita stress, cemas, takut, dsb dan belajar menyelesaikan apapun itu yang menyebabkan timbulnya stress tersebut.

Katanya sih perempuan paling banyak mengalami insomnia dibandingkan lelaki. Perbandingannya 4:3. Selain itu orangtua juga paling banyak mengalami insomnia daripada anak-anak....[ya iyalahh....!] Suatu penelitian juga mengatakan bahwa insomnia merupakan penyebab munculnya rasa sedih, malas, dan kerja yang buruk [kurang tidur tentunya membuat seseorang menjadi mengantuk keesokan harinya dan sulit berkonsentrasi]. Singkatnya kurang tidur akibat sulit tidur membawa dampak pada kualitas hidup seseorang. Jadi penting bagi mereka yang mengalami insomnia untuk dapat menangani kesulitan tidurnya. Apalagi bila akibat kesulitan tidur membawa dampak buruk bagi pekerjaan maupun kegiatan lainnya. 

Jadi, sungguh hubby saya termasuk orang yang beruntung mendapat karunia mudah tertidur. Karena dimanapun dapat dengan gampangnya terlelap dan tertidur. Tidak pada saat bekerja tentunya...kalau yang ini, nach, bisa-bisa bukan cuma kena omel boss, tapi juga istrinya :) 

Kamu sendiri gimana ? Silahkan berbagi tips disini, khususnya bagi yang pernah punya kesulitan tidur ataupun bagi yang tahu resepnya mudah tidur :)  

Good sleep, good learning, good life ! 

Hadir Kembali Disini ...


Sudah hampir sebulan aku tidak menulis di rumahku disini. Setiap kali membuka si mac hitamku, dan mencoba untuk menulis, justru setiap kali aku malah membuka iphoto. Melihat photo-photo kenangan saat bersama papi, dan kembali menangis. Hingga akhirnya kututup lagi si mac...

Hari ini aku mencoba berdamai dengan diriku sendiri. Selama masih ada hari baru untukku, meski saat ini mesti dengan tertatih-tatih...., kucoba kembali bangkit. Menata hati dan harapan. Akan hari esok dan sejuta cerita didalamnya...semoga kesedihan dan dukaku saat ini mampu membuatku menjadi lebih kuat lagi...

Terimakasih untuk semua teman dan pengunjung rumahku ini. SMS dan juga tulisan kalian menanyakan kehadiranku disini, sungguh membuatku tersanjung sekaligus haru. Ketulusan dan kepedulian sungguh tak terbatas oleh ruang dan juga waktu. Terimakasih untuk membuatku semangat lagi. Terimakasih untuk membuatku tersenyum lagi...

Sampai bertemu di tulisanku selanjutnya, God bless you all !  :) 

August 26, 2008

Days Without Our Precious Dad

Hari ini sudah 10 hari papi tidak ada lagi diantara kami. Dan sampai hari ini kami semua masih berkumpul dan tinggal di rumah papi. Rasanya masih berat meninggalkan rumah yang telah kami tinggali bersama bahkan dari sebelum aku lahir. Dan setiap kali memandang bagian-bagian rumah terutama kamar beliau, rasanya sedih sekaligus perih terasa di hati mengingat saat ini tak mungkin lagi kami melihat papi... dan beliau tidak ada lagi bersama-sama kami. Celotehan, tawa, rengekan manja dan tangisan dari ke dua keponakan kami, Christie dan Christo, yang menjadi penghibur kami sekaligus terkadang membuat kami menangis di dalam hati bila mendengar mereka berdua mengungkapkan perasaan kehilangan mereka terhadap"opung doli"nya. 

Terlebih saat mendengar doa si kecil manja Christo di pagi hari. Dengan keluguannya ia berdoa demikian: "Tuhan Yesus, opung kan udah meninggal. Sekarang opung sudah ada di surga. Tuhan Yesus tolong sembuhkan opung yaa....Tuhan Yesus kan dokter....nanti kalau sudah sembuh, tolong kembalikan opung lagi ke bumi yaaa....soalnya dokter di bumi tidak bisa menyembuhkan opung....terimakasih Tuhan Yesus" Kami semua tersenyum, tertawa namun juga sesungguhnya menangis didalam hati kami. Selain itu Christo juga selalu mengatakan berulang-ulang pada kami dengan yakinnya bahwa pada hari ke 40 nanti, opung-nya akan bangkit. Saat ditanya kenapa 40 hari, Christo dengan polosnya bilang karena opungnya sakit dan dirawat selama 40 hari [terakhir kali dirawat di RS Gatot Subroto].

Seperti saat mami pergi meninggalkan kami 5 tahun lalu, juga di bulan Agustus, kembali kami harus belajar menyesuaikan keseharian kami yang telah terbiasa bersama papi, belajar untuk menjalani hidup ini tanpa beliau....yach, sekarang ini, tanpa orangtua....Bukankah setiap hari adalah proses pembelajaran ? Belajar mengatasi kehilangan, belajar mengatasi rasa "sakit, belajar menghadapi kesedihan, dan belajar berbagai pelajaran kehidupan lainnya. 

Sudah 10 hari papi tidak bersama kami, dan masih akan ada hari-hari lain tanpa beliau bersama kami,....entah bagaimana kami menjalaninya, tapi satu hal yang kutahu pasti, DIA sang Yehovah Jireh Yehovah Rappa takkan pernah meninggalkan kami sendirian...

August 21, 2008

God Only Takes The Best

A memory on that night, 

God saw you getting  tired, and a cure was not to be. So He put HIS arms around you and whispered, "Come with Me". Then with tearful eyes we watched you slowly fade away on a next early morning. Although we love you dearly, we would not make you stay. A golden heart stopped beating, your hard working hands put to rest. 

God broke our hearts to prove to us, that He only takes the best. 

Selamat jalan, papi. Our loving father, our hero. You are the best for us ! We are proud to have a father like you ! We love you and miss you even more ! 

More Than Enough

On this day I wish for you God's heavenly gift of peace. More than enough to strengthen your heart so that all your tears may cease.

Memories will flood you on this lonesome day that your daddy was taken home, I pray God gives you more than enough love so that your heart does not feel alone.

I share the pain you carry inside as you face each new tomorrow,
I pray God blesses you with more than enough comfort to take away all your sorrow.

Remember as you walk to that peaceful grave where beautiful flowers are placed with love, I'll be praying God lifts your heart and overflows you with strength from above.

So as this day slowly grows to an end and you're left with only a memory,
Remember, I'll be praying for more than enough.....Your friend I'll always be.

Author: Gretchen
In memory of your wonderful Daddy

Our Loving Father, Forever in Our Hearts !

[our loving father, our hero]




After more than three months hospitalized, God finally called my father to return to HIS home on last Friday morning, August 15th,  at 6.30 am. The funeral was on last Monday, August 18th with military  honor. In that funeral, the army sent some 100 soldiers and officers to hold ceremonies at home and the cemetery. It was really an honor for my dad and especially to all of us to have that kind of respect from the army where he had served for about 30 years. The funeral was held around noon, but the sun did not seem to glare it hottest. Many friends and lot families attended the solemn ceremony to pay the last respect to my dad.  I am very sad to let him go, but I believe that my father is in a better place now in heaven. 

So for my loving father, Poltak Anggara Marpaung, I hope that you will always know whatever I do, wherever I go there is one thing I will never outgrow, and that is my love for you. In my eyes you hung the moon that no child could have ever ask God for a better father than you were to us, Erwin-Ully-Erni and my self. We all loved you then, and we love you still! Our  eyes might not be able to look upon your gentle loving face again, but if we look with our hearts we still see mom and your love. I love you, sweet Papi and miss you even more. I miss you and your voice especially when you were calling me 'sayang'. I am still feeling so sad when mom passed away five years ago, and when you made us orphan on last Friday, and it still feel very hurt inside knowing that you and mom were not here with us anymore. But 'am also feeling happy that you finally re-united again with mom in heaven. 

Now you can rest peacefully, my sweet papi, rest high upon that mountain, and watch over us... untill we all meet again in the house of God in heaven. So for now to my loving Papi and Mami in heaven, you both will never be far from us, for we will always carry your love in our hearts.

We love you, Papi and Mommy !